Artikel Dipublikasikan Pada 31 August 2009 Dalam Aktivitas, Berita

Gubernur Kalimantan Timur Awang Faraoek Ishak mendukung gagasan pembentukan Rumah Aspirasi untuk menjembatani kepentingan pemerintah daerah dan masyarakat Kaltim dengan anggota DPR dan DPD RI. Dukungan tersebut disampaikan Awang Faraoek saat menerima Hetifah bersama Tim Penggagas Rumah Aspirasi: Dr Krisna (ITB), Zaenal (B-Trust), Achmad Wijaya (Bioma Kaltim) dan Anjar (KALIMA).

Artikel Dipublikasikan Pada 29 August 2009 Dalam Berita

Sejumlah organisasi LSM dan anggota DPR RI asal daerah pemilihan Kaltim menggagas rencana pembentukan Rumah Aspirasi. Menurut Hetifah, Rumah Aspirasi tidak sekadar menampung aspirasi dari daerah saja, melainkan juga akan menjadi media yang bisa menyiapkan data-data dan informasi di daerah yang perlu diperjuangan di tingkat pusat.

Artikel Dipublikasikan Pada 29 August 2009 Dalam Berita

KPU Provinsi Kaltim telah memplenokan rekapitulasi perolehan suara DPR RI di KPU Pusat. Di antara delapan caleg daerah pemilihan (dapil) Kaltim yang lolos ke Senayan, dua adalah perempuan: Hetifah dan Adji Farida Padmo Ardan.

Artikel Dipublikasikan Pada 13 February 2009 Dalam Berita

Adu slogan pada atribut kampanye pun dilakukan untuk menarik simpati masyarakat. Sebagai salah satu caleg Dewan Perwakilan Rakyat RI, Hetifah memakai slogan Bersuara Untuk Kemandirian Bumi Etam. Ia beranggapan, slogan tersebut untuk mengomunikasikan jati dirinya, namun bukan mengumbar janji. Lebih tepatnya, sebagai visi misi caleg ke masyarakat. Isu sosial lokal yang hangat di daerah pemilihan, menurutnya, bisa juga dijadikan inspirasi. “Yang penting mudah dipahami masyarakat.”

Artikel Dipublikasikan Pada 12 February 2009 Dalam Berita

Belum selesai masalah tingginya angka golput di Balikpapan, kini terungkap persoalan baru. Ternyata, tak sedikit masyarakat yang tidak mendapatkan hal pilihnya. Berdasarkan hasil penelitian dari 23 SMA dan SMK yang ada di Balikpapan, sebanyak 6.440 siswa tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap.

Artikel Dipublikasikan Pada 24 November 2008 Dalam Berita

Bagaimana Pedagang Kaki Lima (PKL) diperlakukan di suatu kota menjadi cermin kemampuan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah kemiskinan dan menjalankan tata pemerintahan yang baik. Selama ini, banyak kota-kota telah gagal menghasilkan solusi bagi ‘masalah’ PKL. Isu PKL kerap menjadi polemik dan tidak jarang menjadi sumber konflik laten dan mengundang adanya tindakan anarkis.

Ciri Kebijakan Perkotaan yang Ramah PKL: Pengalaman Kota Solo
Relokasi PKL Banjarsari: Keputusan Berdasar Kesepakatan

Artikel Dipublikasikan Pada 23 November 2008 Dalam Berita

Pengalaman dari Kota Solo juga menunjukkan bahwa perbaikan situasi dan pemenuhan kebutuhan spesifik PKL dalam beberapa tahun belakangan ini menuntut adanya visi dan kebijakan perkotaan yang tidak sekedar reaktif, tetapi yang lebih pro-aktif.

Artikel Dipublikasikan Pada 22 November 2008 Dalam Berita

Banjarsari adalah salah satu kawasan di Kota Solo dimana masalah PKL pernah menjadi problem akut. Banjarsari adalah sebuah wilayah bersejarah dengan sebuah taman tempat berdirinya Monumen Juang 45. Tuntutan ekonomi menyebabkan beberapa orang berinisiatif untuk memulai usaha dengan menggelar dagangan disekitar monumen. Pada tahun 2001, ada hampir 1000 PKL yang beroperasi di sekitar wilayah ini.

Artikel Dipublikasikan Pada 21 November 2008 Dalam Berita

Ternyata banyak pemerintah daerah memperlakukan ruang lebih sebagai instrumen untuk menghasilkan pendapatan asli daerah, dan melupakan kewajibannya untuk melakukan penataan dan pengendalian atas pemanfaatan ruang untuk kepentingan jangka panjang.

Artikel Dipublikasikan Pada 11 November 2008 Dalam Berita

Provinsi Jawa Barat dan kota/kabupaten di wilayah Jabar masih menghadapi tantangan besar untuk mampu mengantisipasi terjadinya berbagai bencana rutin seperti banjir dan tanah longsor. Untuk itu, pembaruan dalam sistem pengelolaan bencana baik di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten dirasa sangat mendesak.

Artikel Dipublikasikan Pada 9 November 2008 Dalam Berita

Mengapa pemerintah harus mendengar suara perempuan dan anak? Bukankan selama ini tidak ada satupun kebijakan pemerintah kota yang bermaksud mendiskriminasi perempuan dan anak? Ada beberapa alasan mengapa pemerintah kota ke depan diharapkan mau memberikan perhatian khusus kepada suara perempuan dan anak di Kota Bandung.

Artikel Dipublikasikan Pada 9 November 2008 Dalam Berita

Olah raga adalah hal yang fundamental untuk mencapai kehidupan warga kota yang sehat dan aktif. Bukan saja olah raga menciptakan kesehatan fisik, tapi juga kesehatan psikologis. Sebetulnya fasilitas olah raga di Kota Bandung secara kuantitatif tidak terlalu buruk. Namun, tingkat partisipasi dan akses warga dalam kegiatan olah raga sangat rendah. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian para pengambil kebijakan mengenai hal ini.

Artikel Dipublikasikan Pada 9 November 2008 Dalam Berita

Isu Babakan Siliwangi telah menghasilkan pro-kontra publik tentang bagaimana ruang di kawasan tersebut dimanfaatkan dan dikendalikan. Pemerintah daerah perlu menangkap berbagai asumsi dan argumen yang digunakan oleh mereka yang pro maupun yang kontra untuk mengambil keputusan yang tepat tentang nasib Babakan Siliwangi, dan cara mengimplementasikan keputusan tersebut nantinya.

Artikel Dipublikasikan Pada 13 September 2008 Dalam Berita

Kebijakan Pemkot Bandung untuk membangun kawasan Babakan Siliwangi menjadi rumah makan dinilai melawan arus. Penyediaan lahan terbuka hijau kota sebesar 30 persen membuat kota-kota lain berlomba-lomba untuk membebaskan bangunan untuk dijadikan hutan kota, namun sebaliknya dengan Kota Bandung. Hal itu disampaikan Ketua Alumni Planolog ITB yang juga pemerhati masalah Kota Bandung Hetifah Sjaifudian.

Artikel Dipublikasikan Pada 11 September 2008 Dalam Berita

Untuk menggaet anak muda berpartisipasi aktif dalam pilwalkot Bandung, planolog Ir. Hetifah Sj. Siswanda, MPP, PhD menyarankan agar KPU melakukan sosialisasi yang kreatif, inovatif, dengan ditempatkan di tempat-tempat populer.

Artikel Dipublikasikan Pada 7 September 2008 Dalam Berita

Pada tanggal 12 Juni yang lalu pemerintah Kota Bandung melakukan Soft Launching atau tepatnya sosialisasi awal rencana pelaksanaan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP). Hal ini seakan menunjukkan bahwa saat ini pemerintah Kota Bandung menyatakan komitmennya untuk melakukan reformasi terutama di bidang perizinan yang selama ini terkesan berbelit-belit, tidak transparan, dan sarat dengan KKN.

Artikel Dipublikasikan Pada 24 June 2008 Dalam Berita

Sejumlah bakal calon wali kota Bandung sesumbar di hadapan para aktifis lingkungan. Mereka berjanji tidak akan merestui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan menolak pembangunan apatermen di Babakan Siliwangi.

Artikel Dipublikasikan Pada 22 June 2008 Dalam Berita

Bakal calon walikota Bandung ramai-ramai cari dukungan dari kalangan aktivis lingkungan hidup. Mimbar bebas pun jadi ajang promosi bakal calon pemimpin Kota Bandung lima tahun ke depan.Acara yang digelar Koalisi Masyarakat Bandung Bermartabat (KMBB), Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH), DPLKTS dan WALHI Jabar ini merupakan rangkaian acara dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada 5 Juni.

Artikel Dipublikasikan Pada 19 June 2008 Dalam Berita

Sebagai salah satu calon wakil walikota dari pihak perseorangan (independen), hari Minggu kemarin saya diundang olah IA-ITB Jawa Barat untuk berdialog dengan para alumni ITB di Hotel Saunggaling Bandung. Dari pertemuan tersebut, terungkap ada 3 alumni ITB yang punya itikad baik untuk mengabdikan diri membangun kota Bandung, yaitu: (1) saya sendiri, Arry Akhmad Arman (EL), (2) Taufikurahman (BI), (3) Hetifah Sjaifudian (PL).

Artikel Dipublikasikan Pada 18 June 2008 Dalam Berita

Calon perseorangan dalam pemilihan wali kota Bandung sebaiknya hanya satu paket. Hal itu untuk mencegah perpecahan massa pendukung dan memudahkan calon perseorangan dalam menghadapi calon dari partai politik.