SMA 10 Beres Bulan Ini

Kaltim Post, Rabu, 8 Desember 2010

SAMARINDA –  Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menegaskan, segala permasalahan di SMA 10 Samarinda akan diselesaikan paling lambat akhir Desember 2010. Dia menyatakan hal itu saat menemui guru dan Komite SMA 10, Selasa (7/12) kemarin di Lamin Etam.

Pertemuan itu juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kaltim Musyahrim. Ketua Komite SMA 10 Mulyono Ari Wibowo dan anggota komite Abdul Salam Manan membeberkan hasil pertemuan tersebut pada harian ini.

Menurut Mulyono, penyelesaian dimaksud Awang adalah menyeluruh, termasuk soal utang dan kepemilikan aset.

Mulyono mengungkapkan, dalam pertemuan itu, Kadisdik Musyahrim melaporkan hasil pertemuannya dengan Ketua Yayasan Melati HM Rusli tanggal 2 Desember. Musyahrim mengatakan, HM Rusli seolah tidak mau tahu bagaimana Pemprov Kaltim membayar utang pada yayasan, juga tidak bersedia merinci untuk apa saja penggunaan uang tersebut.

Bahkan, menurutnya, Rusli mengumpamakan persoalan ini seperti membeli pisang sanggar. “Kalau saya membeli sanggar, saya tidak perlu tahu berapa harga minyak, tepung, atau pisangnya,” kata Mulyono mengutip Musyahrim yang menirukan omongan Rusli.

Mendengar penuturan itu, Awang langsung bereaksi. “Tidak bisa begitu, dong,” katanya. Lalu, dia berpaling ke Ketua Komite SMA 10 Mulyono Ari Wibowo. Awang menanyakan bagaimana munculnya utang Pemprov Kaltim sebesar Rp 3,5 miliar yang diklaim yayasan. Mulyono menjelaskan, sebenarnya jumlah utang tidak sebesar itu. Utang sebenarnya hanya sekitar Rp 1,4 miliar berupa tunggakan siswa-siswa yang telah lulus. “Tapi itu pun jumlahnya tidak sebesar itu, yang pasti tidak sampai sebesar itu,” kata Mulyono.

Selain itu, selama ini komite selalu memenuhi kewajibannya membayarkan uang asrama dan makan kepada yayasan sebesar Rp 411 juta per bulan (masing-masing siswa dikenai biaya Rp 1.000.000 per bulan untuk asrama).

Menanggapi hal itu, Awang menegaskan perlunya kejelasan unsur utang tersebut. “Ini bisa jadi temuan kejaksaan, dan saya yang bertanggung jawab untuk itu. Makanya harus diperjelas,” ujarnya.

Mulyono menyebutkan, Rabu (8/12) hari ini Awang berjanji akan menggelar pertemuan dengan Asisten III Sekprov Kaltim Sutarnyoto dan tim penyelesaian masalah SMA 10. “Dalam rapat besok (hari ini, Red) akan ada keputusan final mengenai masalah ini,” tuturnya.

Keputusan tersebut akan segera disampaikan kepada yayasan. Sekali lagi Awang menegaskan, keputusan Pemprov Kaltim bersifat final. “Kalau yayasan tidak menerima, Pak Awang mempersilakan ke pengadilan,” tantangnya.

Pernyataan Awang tersebut membuat komite dan guru-guru SMA 10 merasa tenang. “Pak Awang sudah sangat tegas. Saya bersyukur untuk itu,” kata Kepala SMA 10 Hidayat.

Pada kesempatan bertemu dengan Awang itu, dia juga menyampaikan keluh kesahnya atas pemindahan secara sepihak laboratorium komputer oleh yayasan, juga penutupan perpustakaan dan auditorium.

Mengenai hal itu, Hidayat diminta membuat laporan resmi kepada Kadisdik Kaltim Musyahrim, lalu Musyahrim yang akan menyampaikan surat tersebut ke gubernur hari ini. Surat itu juga nanti yang akan dibahas dalam rapat yang dijanjikan gubernur untuk memungkasi persoalan yang selama ini melilit SMA 10.

SULIT DIKONFIRMASI

Sementara, harian ini kesulitan meminta konfirmasi dari pengurus Yayasan Melati. Setelah beberapa hari dihubungi melalui telepon tidak direspons, Selasa (7/12) kemarin Kaltim Post mendatangi rumah Ketua Yayasan Melati HM Rusli di kompleks SD Bunga Bangsa di Jalan DI Panjaitan Samarinda. Sekitar pukul 11.00 Wita, rumah besar didominasi cat putih itu tampak lengang. Juga sekelilingnya. Padahal, ada tiga mobil terparkir di sana. Setelah beberapa kali memencet bel dan tak ada yang membuka, seorang petugas keamanan mendatangi harian ini.

Dia menjelaskan bahwa Rusli tidak berada di rumah. “Mungkin sore atau malam saja, Mas. Tapi bapak (Rusli, Red) memang sulit ditebak jadwalnya,” ujar pemuda itu.

Harian ini pun kembali mengirimkan pesan singkat dan menelepon untuk membuat janji. Tetapi tetap tidak direspons. Pukul 18.30 Wita, harian ini mendatangi lagi rumah HM Rusli. Setelah hampir satu jam menunggu, seorang petugas keamanan mendekat. “Maaf, Pak Rusli belum mau ditemui hari ini, katanya besok sore saja,” ujar pria itu.

Hal serupa juga terjadi saat harian ini mendatangi rumah Sekretaris Eksekutif Bidang Pendidikan Yayasan Melati AM Herliansyah di lingkungan Kampus Melati Jalan HM Rifaddin, sekitar pukul 15.00 Wita. Sebelumnya, Kaltim Post sudah menyambangi rumah itu tepat tengah hari, tapi saat itu Herliansyah tidak di rumah karena sedang menghadiri undangan.

Sore kemarin, anak Herliansyah, Tika (kelas 5 SD) membukakan pintu. Saat ditanya apakah ayahnya ada, gadis kecil itu menjawab dengan tangkas. “Ada, tapi sedang tidur. Papa kalau sudah tidur, susah dibangunkan,” ujarnya. Tetapi harian ini membujuknya agar membangunkan sang ayah.

Tak lama kemudian, Tika masuk dan mencoba membangunkan Herliansyah. Suara anak itu terdengar dari luar. Tapi yang ditunggu tak kunjung bangun. “Papa enggak mau bangun,” kata Tika pada harian ini.(*/wwn/*/ocr)

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. .asslm, wr, wb, Bu haji dalam rangka Pembukaan Asian Games, boleh ga kami dapat undangan untuk bisa hadir di acara Pembukaan tgl 18/8/2018 nanti, Trima kasih atas berkenannya, wassalam trima kasih By, H.Achmad-Kaltim HP/WA. 081347906928

  2. Semangat pagi bu Hatifah. Saya Lettu Gunawan anggota Lanal Balikpapan (kita pernah bertemu di hotel grand Tjokro Balikpapan saat even sosialisasi Asian Games 2018) Mengenai pendidikan di daerah terpencil terutama perbatasan....mohon izin saya menyarankan : 1. Pembangunan fasilitas dan kualitas harus lebih baik dari pada negara tetangga jangan sampai terjadi seperti di daerah Kalimantan dimana masyarakat NKRI banyak yang menyeberang ke Malaysia untuk sekolah karena fasilitas lebih baik bahkan selama sekolah disana seluruh siswa mendapat fasilitas pinjam pakai laptop. RESIKO : mereka akan lebih mengetahui sejarah malaysia dan bahkan lagu kebangsaan malaysia 2. Khusus daerah terpencil rawan konflik pemberontakan....kami menyarankan mendayagunaan aparat TNI/POLRI yang berdinas didaerah tersebut untuk mengajar.....sehingga ada rasa aman bagi warga dan anggota TNI/POLRI tersebut memiliki tanggung jawab moral sekaligus memiliki kemauan untuk mengembangkan SDM nya dalam hal pendidikan. Demikian saran saya. Terima kasih

  3. Assalamu'alaikum wr wb. Yang Terhormat Ibu Hetifah Sjaifudian. Saya Safril, dari Institusi yang bergerak dalam kegiatan Pengembangan dan Peningkatan Kompetensi SDM khususnya di bidang Teknologi informasi dan Komunikasi untuk SMK dan SMA . Sejak tahun 2012 kami telah melakukan sosialisasi tentang pentingnya memberikan keahlian digital kepada siswa SMK maupun SMA untuk meningkatkan daya saing siswa setelah lulus. Hal ini mengingat masih cukup banyak lulusan SMK yang belum memperoleh kesempatan kerja. Dan yang sudah bekerja tidak sedikit memperoleh pekerjaan yang tidak sesuai dengan ilmu atau keahlian yang diperoleh di SMK. Mohon maaf kami tidak bermaksud memandang rendah suatu pekerjaan, akan tetapi banyak lulusan SMK yang menjadi petugas cleaning atau cleaning service, office boy dan sejenisnya. Kami hanya ingin memaksimalkan peluang pekerjaan yang terbaik yang dapat diperoleh oleh lulusan SMK, sehingga selama 3 tahun belajar dan berlatih tidak berakhir pada pekerjaan yang pada prinsipnya tidak memerlukan jenjang pendidikan menengah kejuruan. Sementara dibentuknya Badan Nasional Sertifikasi Profesi kurang memberikan dampak yang diharapkan. Dan para pemilik Sertifikat dari BNSP setiap tahun harus memperpanjang legalitas Sertifikatnya dengan biaya cukup mahal. Selain itu kami menilai adanya pemaksaan bagi SMK untuk menyelenggarakan Sertifikasi Profesi di SMK-SMK dengan dibentuknya LSP-LSP melalui Peraturan Menteri Pendidikan, yang jelas mengikat SMK untuk mengalokasikan Dana BOS untuk kegiatan BNSP. BNSP mengeluarkan sertifikat profesi berstandar nasional sedangkan kami mengeluarkan sertifikat keahlian digital bersatndar Internasional dan ditandatangani langsung oleh Produsen yang mengeluarkan produk-produk teknologi digital, seperti Microsoft, Adobe dan Autodesk. Untuk itu kami mohon dengan sangat kepada Yth. Ibu Hetifah Sjaifudian, untuk dapat memberikan solusi bagi kami agar dapat memberikan bimbingan berbasis kinerja dengan standar internasional kepada siswa SMK dan pada akhirnya siswa memperoleh sertifikat keahlian digital berstandar Internasional yang sudah diakui oleh kurang lebih 140 negara. Kami sudah melakukan konsolidasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak Musyawarah Kerja Kepala Sekolah dengan respon cukup positif akan tetapi hanya sebatas itu. Alasan utama yang kami terima adalah masalah pendanaan. Kami pada prinsipnya bukan bertujuan "memanfaatkan" Dana Bos atau anggaran pemerintah meskipun seharusnya memang demikian, akan tetapi visi dan misi kami lebih kepada memberikan solusi kepada pihak sekolah terutama kepada siswa yang nantinya menjadi SDM yang mampu bersaing dan memperoleh peluang kerja lebih besar. Bahkan kami memberikan alternatif agar siswa dapat menabung melalui Bank sehingga mampu untuk memenuhi biaya Sertifikasi yang kami selenggarakan dengan nominal yang sangat terjangkau. Untuk itu kami mohon dan sangat berharap untuk dapat bertemu Ibu dan memperoleh arahan serta dukungan agar visi dan misi kami dapat terwujud. Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan, kami mengucapkan terimakasih. Jika berkenan dan kami sangat senang menerima kabar baik dari Ibu melalui 081373264177

Lihat semua aspirasi