Selamat Hari Kesaktian Pancasila

Selamat Hari Kesaktian Pancasila

“Pancasila memang sakti!” begitu ucap Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP menanggapi mengenai hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada hari ini, Jumat (1/10). Ucapan anggota Komisi X DPR RI ini tentu bukan main-main. Ia melihat sejarah bagaimana Pancasila tetap eksis di tengah tantangan zaman.

Sekadar flashback, sejarah Kesaktian Pancaila berawal dari Gerakan 30 September yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kita kenal dengan sebutan G30SPKI. PKI ingin mengadakan pemberontakan, dimana aksi ini merupakan wujud usaha organisasi ini mengubah Pancasila menjadi ideologi komunis. Hari itu, enam Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila, maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Sejak itu, tanggal 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Bahwa dasar Indonesia, Pancasila, adalah sakti dan tidak bisa tergantikan.

Seperti tahun sebelumnya, tahun 2010 ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta pejabat lain, memeringati Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Pada peringatan tersebut, Presiden akan bertindak sebagai inspektur upacara. Para pejabat yang turut hadiri antara lain prajurit dari tiga matra TNI, pramuka, dan pelajar. Lalu Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono dan Ibu Herawati Boediono, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, petinggi TNI/Polri, pejabat tinggi negara, para duta besar negara sahabat, dan undangan lainnya.

Bersamaan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, kebetulan Hetifah memperingati satu tahun dirinya menjadi anggota DPR RI. Bagi perempuan wakil dari daerah pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur (Kaltim) ini, menjadi anggota DPR banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Selain kritik dari warga masyarakat yang menilai kinerja anggota DPR yang lemah, juga menghadapi sejumlah anggota yang masih resisten alias tidak ingin mereformasi diri.

Hetifah masih ingat, ketika belum bekerja secara fulltime menjadi anggota DPR, ia sempat mengirimkan SMS kepada konstituennya. Begini bunyinya: “Menjadi anggota legislatif bukanlah perkara yang mudah: ia harus memiliki empati terhadap kebutuhan masyarakat, memiliki keberanian untuk menyuarakannya, dan memiliki kompetensi untuk mencari jalan keluarnya. Namun hal yang tersulit adalah untuk berpaling dari orang-orang yang telah mendukungnya di masa sulit“.

Di usia setahun, Hetifah menganalogikan dirinya sebagai bayi yang masih harus dibimbing, apalagi ia baru pertama kali menjadi anggota DPR periode 2009-2014 ini. Meski begitu, ia tetap berbesar hati dan mengakui kekurangan selama menjabat.

“Dengan tulus saya mengakui masih banyak amanat rakyat, terutama dari warga dari Dapil saya yang belum terrealisasi. Saya minta maaf. Namun percayalah, saya masih tetap konsisten menjaga amanah dan terus berjuang,” ujar Hetifah. “Doakan saya agar selalu berpihak pada warga Kaltim dan menjalankan amanat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.”