2222

Review Opini

 

Opini di Koran Jakarta hari ini, 11/8/2016 berjudul “Belanja Daerah Macet” ditulis Bhima Yudhistira, peneliti Institute for Development of Economics and Finance. Bhima memaparkan bahwa penyebab utama macetnya belanja daerah adalah karena Pemda menimbun uang di Bank. Penimbunan uang ini sangat tidak sejalan dengan aneka kebijakan Pemerintah Pusat yang ingin menggenjot perekonomian. Hingga bulan Juni, tercatat terdapat uang Pemda yang mengendap di Bank sebesar Rp. 214 triliun. Data Pemerintah menunjukkan serapan anggaran per Maret 2016, untuk Kab/Kota sebesar 8 persen, dan untuk Provinsi sebesar 8,3 persen. Ini jauh dari target semula, yakni 20 persen. Bhima juga menyebutkan bahwa macetnya belanja daerah bisa disebabkan antara lain, pertama, karena Pemda takut dikriminalisasi jika menggunakan uang. Kedua, adanya perencanaan yang tidak sesuai dengan fakta lapangan sehingga menyebabkan molornya lelang/pengadaan barang.

Menumpuknya dana di Bank membuat ekonomi daerah seperti berjalan sendiri. Padahal dengan belanja daerah, pertumbuhan ekonomi dapat meningkat. Aktivitas lesunya ekonomi sulit diatasi jika belanja daerah macet. Menurut Bhima, ini terjadi pada Kaltim yang dihantam dengan penurunan harga batu bara dan migas. Pertumbuhan di Kaltim terkonstraksi hingga minus 1,3 persen pada triwulan I tahun 2016. Saat itu, Pemprov Kaltim justru menunjukkan serapan yang rendah, hanya 3 persen.

Kegagalan daerah dalam pengelolaan anggaran berdampak pada tingkat pengangguran terbuka. Data BPS menunjukkan adanya lonjakan jumlah pengangguran terbuka, terutama sektor manufaktur. Dalam hal urutan PHK, Kaltim menduduki urutan pertama, sebanyak 10.721 orang, disusul Jabar dengan 10.291.

*) sumber: Bhima Yudhistira Adhinegara, “Belanja Daerah Macet”, Opini dalam Koran Jakarta, 11 Agustus 2016.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Bu tolong di bantu kami dr guru honor TKK SMA d kutai barat, sejak kami bernaung di bawah Pemrrintah Prop. Kaltim hidup kami susah, gaji kami d potong drastis hidup kami benar2 susah bu, harus terus pinjam uang kesana kesini utk kebutuhan sehari2, sedangkan biaya hidup di Kutai Barat sangat mahal..tolong kami y bu biar nasib para guru TKK SMA d Kutai Barat bs lebih baik..

  2. Selamat pagi Ibu. Kami mengalami hal ini. Begini Ibu, redaksional kami: 1. Kami adalah melompok tani yang tergabung dalam KSU Mitra Sawit Lestari (Misale) menjalin perjanjian plasma inti. Perjanjian plasma inti merupakan kemitraan dengan pola inti-plasma. Dasar hukum mengenai kemitraan dengan pola inti plasma dalam UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (pasal 27) dan PP No. 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan. Menurut hukum koperasi diwakili oleh para pengurusnya (pasal 30 ayat [2] huruf a UU No. 25 Tahun 1992 tentang Koperasi). Bentuk perwakilan antara koperasi dengan petani inti plasma tersebut bisa ada dua kemungkinan, yaitu: • Koperasi selaku kuasa; menandatangani perjanjian mewakili, untuk dan atas nama anggotanya; atau • Koperasi menandatangani perjanjian untuk dan atas nama koperasi itu sendiri, di mana perjanjian tersebut akan dilanjutkan kepada anggota koperasi, dalam hal ini para petani plasma. 2. Luas kebun plasma adalah 120 hektare area loa haur desa tengin baru sepaku penajam paser utara. 3. Kebun kami dibangun dengan pinjaman bank niaga dengan agunan berupa surat kepemilikan tanah (skt) senilai kurang lebih 6 m. 4. Umur tanam sawit kami 9 tahun. 5. Sejak bulan mei 2017, area tersebut di jadikan objek hukum oleh Dinas Kehutanan Provinsi sebagai Tahura berdasar keputusan PN Tanah Grogot. Bagaimana kami mengurus hal ini Ibu? Mohon advicenya..🙏 WA kami 081253463080

  3. Assalamualaikum ibu, saya dari perwakilan komunitas musik samarinda yang tergabung dalam komunitas musik borneo metalcamp, ingin mengajukan proposal kepada ibu sebagai donatur.. Apabila di izinkan kita ingin mengirim proposal.. Mohon di respon ibu.. Wassalamualaikum

Lihat semua aspirasi