Planolog Hetifah: Jakarta Sudah Mall Heavy

Kisruh tentang peruntukan Taman Ria Senayan, Jakarta, belum juga reda. Banyak pihak yang bersikap. Ada yang pro, tidak sedikit yang kontra. Yang pro adalah mereka yang tidak mempermasalahkan Taman Ria Senayan dijadikan mall. Sedangkan pihak yang tidak setuju lebih suka menjadikan ruang terbuka hijau (RTH).

Menurut Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan DKI Jakarta, Hari Sasongko, pembangunan kawasan terintegrasi ini tinggal menunggu Amdal saja dari pihaknya (Tempo Interaktif, Senin, 19 Juli 2010 10:44 WIB). Semua perlengkapan administrasi seperti surat kepemilikan tanah sudah dipenuhi pihak pengembang. Namun Dinas P2B belum memberikan izin karena masih menunggu analisis mengenai dampak lingkungannya. Amdal digunakan untuk pengambilan keputusan. Aspek yang dilihat, dijelaskannya, adalah studi kelayakan ekologi, sosial budaya, ekonomi dan kesehatan masyarakat.

rth1 Planolog Hetifah: Jakarta Sudah Mall Heavy
Papan putih yang terlihat di sebelah kanan foto adalah kawasan bekas Taman Ria Senayan yang saat ini sedang kisruh.

Sementara Sekretaris Menteri Sekretaris Negara Ibnu Purna mengatakan, pembangunan pusat perbelanjaan itu ada di dalam perjanjian antara Pengelola Gelora Bung Karno dan pihak swasta (Kompas Property, Senin, 19 Juli 2010, 15:46 WIB). Seusai Rapat Panja Aset Negara di DPR, ia menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa main putuskan sepihak saja perjanjian tersebut.

Kekisruhan ini membuat prihatin planolog lulusan ITB Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP. Menurutnya, gagasan Bung Karno mengembangkan kawasan Senayan di tahun 1960-an, bukanlah untuk mendirikan bangunan-bangunan yang menghabiskan lahan hijau. Bapak Bangsa Indonesia ini hanya membangun Gelora Senayan, Istora Senayan dan sarana penunjang olahraga lainnya) serta Kompleks Conefo (belakangan menjadi Kompleks DPR-MPR) di lingkungan Senayan.

rth2 Planolog Hetifah: Jakarta Sudah Mall Heavy
Kawasan bekas Taman Ria Senayan yang dipagar dan dijaga beberapa Satpam. Akankah menjadi ruang terbuka hijau?

Namun sejak tahun 70-an sampai sekarang, terjadi kekeliruan peruntukan kawasan Senayan. Kekeliruan terjadi sejak dibangunnya Hotel Hilton (sekarang Hotel Sultan), Gedung Depdikbud (sekarang Kemdiknas), yang kemudian disusul dengan pembangunan Ratu Plaza, Gedung Panin, Plaza Senayan, Senayan City, STC, dan fX. Jika Taman Ria Senayan akan dibangun mall, genap sudah kekeliruan yang dilakukan oleh pemerintah.

“Kawasan Senayan itu sudah terlalu mall-heavy atau kebanyakan mall,” komentar Hetifah yang dikenal sebagai aktivis kampus dan menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Planologi ITB (1985-1986). “Sebaiknya bekas Taman Ria Senayan dijadikan RTH.”

Ketika tahun 1970-an Taman Ria Remaja Senayan dibuka, hal tersebut sebagai upaya memanfaatkan taman kota, dimana saat itu terdapat lahan hijau serta danau untuk tempat rekreasi publik. Mereka yang melancong ke tempat ini bisa melakukan aktivitas hijau dan sehat, yakni jalan-jalan di taman atau bersepeda-air di danau. Dengan kata lain, Taman Ria Remaja Senayan adalah sebuah urban park yang dibutuhkan oleh warga kota Jakarta.

PB071263 Planolog Hetifah: Jakarta Sudah Mall Heavy
Salah satu pemukiman di Jakarta yang sudah padat. Tak ada lagi tempat untuk ruang terbuka hijau.

Namun, kekeliruan terjadi sejak tahun 1980-an, ketika di atas lahan itu dibongkar dan kemudian berdiri restoran-restoran besar, amusement park lengkap dengan jet-coaster serta sarana hiburan lainnya. Belum cukup itu, muncul lagi pertokoan, yakni distro dan juga bilyar. Pendirian bangunan itu mematikan lahan hijau di kawasan tersebut.

Menurut Hetifah yang kini menjabat sebagai Ketua Alumni Planologi ITB, menjadikan Taman Ria Senayan sebagai RTH tidak berlebihan, apalagi hal tersebut memenuhi amanat UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang sedang digalakkan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

P6210257 Planolog Hetifah: Jakarta Sudah Mall Heavy
Salah satu ruang terbuka hijau di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Sekadar infomasi, amanat UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang menetapkan suatu kota harus memiliki ruang terbuka hijau (RTH) paling sedikit 30% dari luas wilayah kota. Jakarta hanya memiliki RTH sekitar 11%, itu pun termasuk tanah-tanah kuburan yang diklaim sebagai RTH.

Selama ini Jakarta telah banyak kehilangan RTH. Sebut saja Taman Pluit seluas 21 ha yang telah berubah fungsi menjadi Mega Mall Pluit (belakangan diperluas dan berganti nama menjadi Pluit Village). Lalu di jalan Wijaya, Kebayoran Baru, taman lingkungan seluas 6 ha telah berubah menjadi golf driving range dan townhouses. Dengan momentum Taman Ria Senayan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa merealisasikan penambahan RTH yang masih kurang itu.

all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. .asslm, wr, wb, Bu haji dalam rangka Pembukaan Asian Games, boleh ga kami dapat undangan untuk bisa hadir di acara Pembukaan tgl 18/8/2018 nanti, Trima kasih atas berkenannya, wassalam trima kasih By, H.Achmad-Kaltim HP/WA. 081347906928

  2. Semangat pagi bu Hatifah. Saya Lettu Gunawan anggota Lanal Balikpapan (kita pernah bertemu di hotel grand Tjokro Balikpapan saat even sosialisasi Asian Games 2018) Mengenai pendidikan di daerah terpencil terutama perbatasan....mohon izin saya menyarankan : 1. Pembangunan fasilitas dan kualitas harus lebih baik dari pada negara tetangga jangan sampai terjadi seperti di daerah Kalimantan dimana masyarakat NKRI banyak yang menyeberang ke Malaysia untuk sekolah karena fasilitas lebih baik bahkan selama sekolah disana seluruh siswa mendapat fasilitas pinjam pakai laptop. RESIKO : mereka akan lebih mengetahui sejarah malaysia dan bahkan lagu kebangsaan malaysia 2. Khusus daerah terpencil rawan konflik pemberontakan....kami menyarankan mendayagunaan aparat TNI/POLRI yang berdinas didaerah tersebut untuk mengajar.....sehingga ada rasa aman bagi warga dan anggota TNI/POLRI tersebut memiliki tanggung jawab moral sekaligus memiliki kemauan untuk mengembangkan SDM nya dalam hal pendidikan. Demikian saran saya. Terima kasih

  3. Assalamu'alaikum wr wb. Yang Terhormat Ibu Hetifah Sjaifudian. Saya Safril, dari Institusi yang bergerak dalam kegiatan Pengembangan dan Peningkatan Kompetensi SDM khususnya di bidang Teknologi informasi dan Komunikasi untuk SMK dan SMA . Sejak tahun 2012 kami telah melakukan sosialisasi tentang pentingnya memberikan keahlian digital kepada siswa SMK maupun SMA untuk meningkatkan daya saing siswa setelah lulus. Hal ini mengingat masih cukup banyak lulusan SMK yang belum memperoleh kesempatan kerja. Dan yang sudah bekerja tidak sedikit memperoleh pekerjaan yang tidak sesuai dengan ilmu atau keahlian yang diperoleh di SMK. Mohon maaf kami tidak bermaksud memandang rendah suatu pekerjaan, akan tetapi banyak lulusan SMK yang menjadi petugas cleaning atau cleaning service, office boy dan sejenisnya. Kami hanya ingin memaksimalkan peluang pekerjaan yang terbaik yang dapat diperoleh oleh lulusan SMK, sehingga selama 3 tahun belajar dan berlatih tidak berakhir pada pekerjaan yang pada prinsipnya tidak memerlukan jenjang pendidikan menengah kejuruan. Sementara dibentuknya Badan Nasional Sertifikasi Profesi kurang memberikan dampak yang diharapkan. Dan para pemilik Sertifikat dari BNSP setiap tahun harus memperpanjang legalitas Sertifikatnya dengan biaya cukup mahal. Selain itu kami menilai adanya pemaksaan bagi SMK untuk menyelenggarakan Sertifikasi Profesi di SMK-SMK dengan dibentuknya LSP-LSP melalui Peraturan Menteri Pendidikan, yang jelas mengikat SMK untuk mengalokasikan Dana BOS untuk kegiatan BNSP. BNSP mengeluarkan sertifikat profesi berstandar nasional sedangkan kami mengeluarkan sertifikat keahlian digital bersatndar Internasional dan ditandatangani langsung oleh Produsen yang mengeluarkan produk-produk teknologi digital, seperti Microsoft, Adobe dan Autodesk. Untuk itu kami mohon dengan sangat kepada Yth. Ibu Hetifah Sjaifudian, untuk dapat memberikan solusi bagi kami agar dapat memberikan bimbingan berbasis kinerja dengan standar internasional kepada siswa SMK dan pada akhirnya siswa memperoleh sertifikat keahlian digital berstandar Internasional yang sudah diakui oleh kurang lebih 140 negara. Kami sudah melakukan konsolidasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak Musyawarah Kerja Kepala Sekolah dengan respon cukup positif akan tetapi hanya sebatas itu. Alasan utama yang kami terima adalah masalah pendanaan. Kami pada prinsipnya bukan bertujuan "memanfaatkan" Dana Bos atau anggaran pemerintah meskipun seharusnya memang demikian, akan tetapi visi dan misi kami lebih kepada memberikan solusi kepada pihak sekolah terutama kepada siswa yang nantinya menjadi SDM yang mampu bersaing dan memperoleh peluang kerja lebih besar. Bahkan kami memberikan alternatif agar siswa dapat menabung melalui Bank sehingga mampu untuk memenuhi biaya Sertifikasi yang kami selenggarakan dengan nominal yang sangat terjangkau. Untuk itu kami mohon dan sangat berharap untuk dapat bertemu Ibu dan memperoleh arahan serta dukungan agar visi dan misi kami dapat terwujud. Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan, kami mengucapkan terimakasih. Jika berkenan dan kami sangat senang menerima kabar baik dari Ibu melalui 081373264177

Lihat semua aspirasi