Perpusnas Harus Perhatikan Daerah Terpencil
TRIBUN KALTIM/SUMARSONO
Rabu, 2 Juni 2010 | 21:32 WITA
JAKARTA, tribunkaltim.co.id – Kondisi perpustakaan di berbagai daerah yang terkesan lesu, sepi dan tidak bergairah menjadi keprihatinan sejumlah anggota Komisi X DPR RI. Meski sudah dipisah dari Kementrian Pendidikan Nasional, namun tidak ada progress yang mampu ditunjukkan para pemegang kebijakan di Perpusnas.
“Tanpa revitalisasi, kondisi Perpusnas akan tetap seperti ini. Tidak berubah dan hampir mirip kondisi museum yang kebetulan mitra kerja Komisi X juga,” kata Wakil Ketua Komisi X Abdul Hakam Naja dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X dengan Perpustakaan Nasional RI di ruang Komisi X, Rabu (2/6).
Hakam menyarankan agar ada pola serta terobosan yang mampu di-design oleh Perpusnas menarik minat masyarakat memanfaatkan perpustakaan daerah. Salah satu terobosan yang perlu dilakukan, misalnya kerjasama dengan perusahaan besar di lingkungan perpustakaan itu berada. Saat ini sudah banyak program corporate social responsibility (CSR) yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai perpustakaan wilayah maupun komunitas.
Senada dengan Hakam Naja, Hetifah, anggota Komisi X dari Partai Golkar ini menekankan pentingnya memperhatikan penyediaan perpustakaan bagi perempuan di berbagai sektor. “Bisa saja disediakan perpustakaan di pasar, TK, PAUD untuk ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya sehingga pengetahuan mereka bisa bertambah,” ujar wakil rakyat dari Dapil Kaltim ini.
Namun sayangnya, pada program yang diajukan untuk Tahun Anggaran 2011 lebih banyak memberikan bantuan. Tidak ada semangat baru yang coba dilakukan Perpusnas. “Anggaran yang diajukan terhitung sangat kecil, dan apa yang bisa dilakukan kalau mengajukan cuma segini?, ” kritik Hetifah.
Hetifah juga menyoroti minimnya ketersediaan buku bagi kalangan perempuan. Misalnya dalam menjalankan aktifitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga tentu butuh pengetahuan cara mendidik anak, memasak, menjahit dan lain sebagainya. Apalagi jika perempuan-perempuan pekerja, akan lebih membutuhkan banyak referensi.
“Masih banyaknya daerah terpencil, pedalaman serta daerah yang sulit diakses di Kaltim hendaknya diperhatikan oleh Perpusnas. Daerah di Jawa akses pengetahuan lebih terbuka lebar dibandingkan dengan kondisi Dapil saya (Kaltim), ” ungkap Doktor lulusan Flinders University Australia ini.
Rapat Dengar Pendapat kemarin untuk mempertajam Rencana Kegiatan Anggaran Kementrian/Lembaga sebagai persiapan penyusunan APBN 2011. Dalam paparannya, Plt Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lilik Setyowati menjelaskan, pada 2011 pihaknya mendesign tiga program yakni pengembangan perpustakaan, peningkatan sarana dan prasarana aparatur perpustakaan nasional serta program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya. “Anggaran yang kami ajukan tahun depan (2011) mencapai Rp 332.500.000.000” paparnya. (son)


Facebook
Twitter 






Silahkan Tinggalkan Komentar