Pendidikan Karakter Jangan Sampai Menjadi Slogan
Beberapa waktu lalu Wakil Presiden (Wapres) Boediono megingatkan kembali pentingnya membangun karakter bangsa. Wapres merasa galau terhadap karakter sebagian generasi muda yang terbiasa melakukan hal-hal negatif, sehingga pemerintah merasa penting untuk melakukan pendidikan karakter bangsa.
Kegalauan Boediono juga dialami oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh. Janjinya, pemerintah akan memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional.
Anggota DPR RI Komisi X Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian MPP, Phd sepakat dengan Wapres maupun Mendiknas mengenai pendidikan karakter bangsa. Saat ini, menurut Hetifah, generasi muda memang harus dikuatkan lagi karakter kebangsaannya.
“Mereka (generasi muda-pen) tersebut perlu dijabarkan apa itu tujuan penguatan karakter bangsa,” kata Hetifah. “Jangan sampai pendidikan penguatan karakter ini cuma jadi slogan atau wacana. Kalau pun diimplementasikan, jangan sampai dijadikan proyek baru yang menghambur-hamburkan uang.”
Hetifah tidak masalah, Mendiknas menanamkan pendidikan budaya dan karakter bangsa ini tidak dalam bentuk mata pelajaran tersendiri. Yang penting generasi muda mengerti, bahwa pendidikan karakter itu penting.
“Hendaknya upaya ini terintegrasi dengan pendidikan di luar sekolah maupun keluarga,” ujar Hetifah lagi.


Facebook
Twitter 






sesungguhnya pendidikan bagi generasi bangsa aalah tanggungjawab ari semua komponen dalam Bangsa ini. Pendidikan karakter masuk dalam kurikulum sekolah tentu baik, tetapi lebih baik lagi kalau pendidikan karakter ini sudah dimulai dari dalam keluarga, melalui pembiasaan-pembiasaan nilai-nilai sopan santun, religiusitas, berfikir positif, pengendalian diri, sabar, mengerti dan mamahami orang-orang di sekitarnya, dan mash banyak lagi nilai-nilai yang sesungguhnya telah dimiliki oleh bangsa ini sejak dulu kala namun saat ini tergerus oleh teknologi yang tidak diimbangi dengan kesiapan SDM. Artinya, pengenalan teknologi sejak dini itu baik tetapi seorang anak harus diberi bekal pengertian bahwa dibalik kemajuan teknologi yang berdampak memudahkan segala hal, pasti ada sisi negatifnya, apabila salah pengunaanya. Satu contoh: Memberikan fasilitas handphone pada anak, dimaksudkan untuk memudahkan komunikasi dengan orangtua, guru atau mungkin teman (Bilamana perlu). Tetapi karena anak tidak diberi pengertian akan sisi negatifnya maka dengan tanpa merasa salah, si anak mendownload dan menyimpan film-film blue, kemudian menontonnya, dan parahnya kemudian mencoba menirunya.
Artiya: Pendidikan karakter masuk di kurikulum kalau tanpa diimbangi dengan pembiasaan nilai2 kehidupan yang baik, di rumah.lingkungan maupun sekolah, adalah NONSEN……
Silahkan Tinggalkan Komentar