Pendidikan Karakter Jangan Sampai Menjadi Slogan

Artikel Dipublikasikan Pada 20 July 2010

Beberapa waktu lalu Wakil Presiden (Wapres) Boediono megingatkan kembali pentingnya membangun karakter bangsa. Wapres merasa galau terhadap karakter sebagian generasi muda yang terbiasa melakukan hal-hal negatif, sehingga pemerintah merasa penting untuk melakukan pendidikan karakter bangsa.

Kegalauan Boediono juga dialami oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh. Janjinya, pemerintah akan memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional.

Anggota DPR RI Komisi X Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian MPP, Phd sepakat dengan Wapres maupun Mendiknas mengenai pendidikan karakter bangsa. Saat ini, menurut Hetifah, generasi muda memang harus dikuatkan lagi karakter kebangsaannya.

“Mereka (generasi muda-pen) tersebut perlu dijabarkan apa itu tujuan penguatan karakter bangsa,” kata Hetifah. “Jangan sampai pendidikan penguatan karakter ini cuma jadi slogan atau wacana. Kalau pun diimplementasikan, jangan sampai dijadikan proyek baru yang menghambur-hamburkan uang.”

Hetifah tidak masalah, Mendiknas menanamkan pendidikan budaya dan karakter bangsa ini tidak dalam bentuk mata pelajaran tersendiri. Yang penting generasi muda mengerti, bahwa pendidikan karakter itu penting.

“Hendaknya upaya ini terintegrasi dengan pendidikan di luar sekolah maupun keluarga,” ujar Hetifah lagi.

Silahkan Tinggalkan Komentar

Silahkan gunakan kolom komentar di bawah, atau lacak balik. Anda juga bisa mengikuti alur komentar berlangganan umpan balik komentar ini lewat RSS.