Orangtua Murid Harus Kritis

Hasil penelitian Bank Dunia tentang transparasi dan akuntabilitas penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) cukup mengejutkan. Pasalnya, meskipun program tersebut sudah berjalan lima tahun, namun banyak orangtua tidak dilibatkan dan mengetahui untuk apa pengelolaan dana tersebut selanjutnya. Padahal, penggunaan dana BOS seharusnya melibatkan peran orangtua siswa sejak perencanaan hingga pelaporan.

Itulah fakta yang terjadi di lapangan. Bank Dunia melakukan penelitian terhadap 3.600 orangtua siswa dari 720 sekolah di sejumlah wilayah di Tanah Air. Hasilnya, 71,16 persen orangtua siswa tidak mengetahui laporan BOS dan 92,65 persen tidak melihat papan pengumuman sekolah tentang penggunaan BOS. Hampir mayoritas orangtua siswa pernah mendengar program BOS. Namun, ironisnya rincian tentang BOS, terutama menyangkut jumlah dana BOS per siswa serta laporan penggunaannya, masih tidak banyak diketahui oleh orangtua siswa.

Menurut anggota DPR RI Komisi X Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, di masa depan, partisipasi dan daya kritis orangtua dalam tata kelola pendidikan perlu lebih ditingkatkan. Sebab, mereka adalah stakeholder penting dalam kegiatan belajar mengajar.

“Selama ini mereka cenderung mempercayakan sepenuhnya urusan keuangan pada pihak sekolah,” komentar Hetifah. “Mereka kurang berani bersikap manakala menemukan adanya kejanggalan atau penyimpangan, karena khawatir dampaknya pada anak-anak mereka.”

Oleh karena itu, lanjut Hetifah, orangtua jangan mempercayakan 100% urusan pengelolaan keuangan pada pihak sekolah. Orangtua harus berpartisipasi dan mengkritisi kejanggalan atau dugaan penyimpangan di sekolah.

Apa yang dikatakan Hetifah merujuk pada beberapa fakta di lapangan, dimana partisipasi orangtua dalam mengkritisi adanya kejanggalan atau penyimpangan malah menyusahkan anak-anak mereka. Kasus SDN RSBI 12 Rawamangum, Jakarta Timur adalah contoh nyata. Orangtua-orangtua kritis justru malah dianggap sebagai benalu bagi pihak sekolah. Ujung-ujungnya, anak-anak dari para orangtua kritis tersebut yang menjadi korban.

Senada dengan Hetifah, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh juga setuju partisipasi masyarakat, terutama orangtua siswa, dalam perencanaan dan pengawasan pemanfaatan dana BOS yang nilainya hampir Rp 20 triliun itu perlu semakin ditingkatkan. Untuk itu, kampanye dan sosialisasi pada orangtua untuk menyadari perlunya terlibat dalam menjalankan dan memusyawarahkan penggunaan BOS semakin gencar dilakukan.

Namun anehnya, Mendikas menolak dugaan Bank dunia yang mengatakan, penyimpangan dana BOS sekitar tiga persen dinilai sebagai tindakan korupsi. Menurut Nuh, hal yang ditemukan oleh Bank dunia belum masuk ke kategori tindak pidana korupsi, yaitu menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Sebab, terjadi perbedaan penafsiran tentang aturan penggunaan dana BOS itu sendiri.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalamualaikum ibu, saya dari perwakilan komunitas musik samarinda yang tergabung dalam komunitas musik borneo metalcamp, ingin mengajukan proposal kepada ibu sebagai donatur.. Apabila di izinkan kita ingin mengirim proposal.. Mohon di respon ibu.. Wassalamualaikum

  2. Selamat Hari Kartini untuk Ibu Hetifah Semangat dan Teruslah mendorong keterlibatan peran perempuan dalam keterwakilannya di Parlemen. Sebab tanpa perempuan, maka demokrasi kita masih stagnan. Salam Kartini Indonesia !!! Selamat Berjuang ! Selamatkan Perempuan Indonesia dari Ketertindasan...

Lihat semua aspirasi