Menuju Bandung Kota Kreatif

BANDUNG, (Hetifah Media Center) – Dinas Priwisata dan Kebudayaan (DISBUDPAR) Propinsi Jawa Barat kembali mengadakan kegiatan talkshow seni, wisata dan budaya sunda ”Bruk-Brak,”selasa (10/6). Mengangkat tema ’Menuju Bandung sebaga Kota Kreatif’, kali ini DISBUDPAR menghadirkan tokoh sekaligus pakar dalam bidang perencanaan dan tata ruang Ir. Hetifah Siswanda, PhD., Prof. Setiawan Sabana, dan representasi kaum kreatif Bandung, Tubagus Fiki Chikara.

Acara yang disiarkan secara Live dan interaktif ini menyorot kesiapan pemerintah kota dan warga Bandung pada umumnya menghadapi peluncuran program Bandung Kota Kreatif (Bandung Creative City) Agustus mendatang. Kota Bandung terpilih sebagai pilot project untuk Kota Kreatif se-Asia timur pertengahan tahun lalu di Yokohama, Jepang.

Fiki memaparkan bahwa komunitas-komunitas kreatif telah siap menjelang Bandung Creative City. ”Bulan Agustus Mendatang kita akan menggelar festival untuk menyambut Bandung sebagai Kota Kreatif,” Ujarnya. Hal tersebut sekaligus menegaskan bahwa warga bandung dapat secara kreatif turut mengangkat citra bandung. Menurut Prof. Setiawan, kreatifitas bandung telah ada sejak zaman dulu. ”Hal ini terlihat dari sejarah Paris van Java, Bandung Kota Kembang, dst,” Ungkap Guru Besar Desain dan Seni rupa ITB ini.

Hetifah mengatakan bahwa warga Kota Bandung lebih dari siap mendeklarasikan diri sebagai warga kota kreatif. Namun, menurutnya makna kreatif tidak saja berkaitan dengan industri kreatif atau tata ruang kota, ”Kreatif ini juga terutama harus dimaknai oleh pemerintah kota untuk menerapkan kebijakan-kebijakan ‘kreatif’ untuk memecahkan persoalan-persoalan warga bandung,” Hetifah menegaskan. Ketika ditanya mengenai arti ‘kreatif’ yang dimaksud, Hetifah menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah harus memiliki banyak alternative sebelumnya, melibatkan warga secara deliberatif, dan keluar dari mindset lama (konvensional/status quo). “Misalnya dalam penanganan masalah sampah, penertiban PKL, penataan kota, pembangunan Mall, ruang terbuka publik, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya, semua itu dapat dan harus diatasi dengan cara-cara kreatif,” tambah Ketua Ikatan Alumni Perencana ITB ini seraya mencontohkan penerapan ruang publik di Mall seperti dengan menyediakan perpustakaan, tempat penitipan anak, serta taman bermain.

Dalam sesi interaktif, seorang perwakilan warga bandung dari komunitas saritem menyatakan dukungannya terhadap paparan Hetifah, serta menekan pemerintah kota agar lebih bijak dalam mengelola tata ruang bandung, terutama menyangkut ruang terbuka hijau. (HMC)

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. .asslm, wr, wb, Bu haji dalam rangka Pembukaan Asian Games, boleh ga kami dapat undangan untuk bisa hadir di acara Pembukaan tgl 18/8/2018 nanti, Trima kasih atas berkenannya, wassalam trima kasih By, H.Achmad-Kaltim HP/WA. 081347906928

  2. Semangat pagi bu Hatifah. Saya Lettu Gunawan anggota Lanal Balikpapan (kita pernah bertemu di hotel grand Tjokro Balikpapan saat even sosialisasi Asian Games 2018) Mengenai pendidikan di daerah terpencil terutama perbatasan....mohon izin saya menyarankan : 1. Pembangunan fasilitas dan kualitas harus lebih baik dari pada negara tetangga jangan sampai terjadi seperti di daerah Kalimantan dimana masyarakat NKRI banyak yang menyeberang ke Malaysia untuk sekolah karena fasilitas lebih baik bahkan selama sekolah disana seluruh siswa mendapat fasilitas pinjam pakai laptop. RESIKO : mereka akan lebih mengetahui sejarah malaysia dan bahkan lagu kebangsaan malaysia 2. Khusus daerah terpencil rawan konflik pemberontakan....kami menyarankan mendayagunaan aparat TNI/POLRI yang berdinas didaerah tersebut untuk mengajar.....sehingga ada rasa aman bagi warga dan anggota TNI/POLRI tersebut memiliki tanggung jawab moral sekaligus memiliki kemauan untuk mengembangkan SDM nya dalam hal pendidikan. Demikian saran saya. Terima kasih

  3. Assalamu'alaikum wr wb. Yang Terhormat Ibu Hetifah Sjaifudian. Saya Safril, dari Institusi yang bergerak dalam kegiatan Pengembangan dan Peningkatan Kompetensi SDM khususnya di bidang Teknologi informasi dan Komunikasi untuk SMK dan SMA . Sejak tahun 2012 kami telah melakukan sosialisasi tentang pentingnya memberikan keahlian digital kepada siswa SMK maupun SMA untuk meningkatkan daya saing siswa setelah lulus. Hal ini mengingat masih cukup banyak lulusan SMK yang belum memperoleh kesempatan kerja. Dan yang sudah bekerja tidak sedikit memperoleh pekerjaan yang tidak sesuai dengan ilmu atau keahlian yang diperoleh di SMK. Mohon maaf kami tidak bermaksud memandang rendah suatu pekerjaan, akan tetapi banyak lulusan SMK yang menjadi petugas cleaning atau cleaning service, office boy dan sejenisnya. Kami hanya ingin memaksimalkan peluang pekerjaan yang terbaik yang dapat diperoleh oleh lulusan SMK, sehingga selama 3 tahun belajar dan berlatih tidak berakhir pada pekerjaan yang pada prinsipnya tidak memerlukan jenjang pendidikan menengah kejuruan. Sementara dibentuknya Badan Nasional Sertifikasi Profesi kurang memberikan dampak yang diharapkan. Dan para pemilik Sertifikat dari BNSP setiap tahun harus memperpanjang legalitas Sertifikatnya dengan biaya cukup mahal. Selain itu kami menilai adanya pemaksaan bagi SMK untuk menyelenggarakan Sertifikasi Profesi di SMK-SMK dengan dibentuknya LSP-LSP melalui Peraturan Menteri Pendidikan, yang jelas mengikat SMK untuk mengalokasikan Dana BOS untuk kegiatan BNSP. BNSP mengeluarkan sertifikat profesi berstandar nasional sedangkan kami mengeluarkan sertifikat keahlian digital bersatndar Internasional dan ditandatangani langsung oleh Produsen yang mengeluarkan produk-produk teknologi digital, seperti Microsoft, Adobe dan Autodesk. Untuk itu kami mohon dengan sangat kepada Yth. Ibu Hetifah Sjaifudian, untuk dapat memberikan solusi bagi kami agar dapat memberikan bimbingan berbasis kinerja dengan standar internasional kepada siswa SMK dan pada akhirnya siswa memperoleh sertifikat keahlian digital berstandar Internasional yang sudah diakui oleh kurang lebih 140 negara. Kami sudah melakukan konsolidasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak Musyawarah Kerja Kepala Sekolah dengan respon cukup positif akan tetapi hanya sebatas itu. Alasan utama yang kami terima adalah masalah pendanaan. Kami pada prinsipnya bukan bertujuan "memanfaatkan" Dana Bos atau anggaran pemerintah meskipun seharusnya memang demikian, akan tetapi visi dan misi kami lebih kepada memberikan solusi kepada pihak sekolah terutama kepada siswa yang nantinya menjadi SDM yang mampu bersaing dan memperoleh peluang kerja lebih besar. Bahkan kami memberikan alternatif agar siswa dapat menabung melalui Bank sehingga mampu untuk memenuhi biaya Sertifikasi yang kami selenggarakan dengan nominal yang sangat terjangkau. Untuk itu kami mohon dan sangat berharap untuk dapat bertemu Ibu dan memperoleh arahan serta dukungan agar visi dan misi kami dapat terwujud. Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan, kami mengucapkan terimakasih. Jika berkenan dan kami sangat senang menerima kabar baik dari Ibu melalui 081373264177

Lihat semua aspirasi