2013-07-gempa

Mengelola “Takdir” Gempa Abadi

Gempa kembali mengejutkan masyarakat Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, pada 2 Juli 2013 pukul 14.30. Gempa berkekuatan 6,2 skala Richter itu terjadi di daratan tengah Pulau Sumatera pada kedalaman 10 km. Gempa berada dan bersumber pada zona sesar Sumatera. Data sementara tercatat 35 orang tewas, 8 hilang, dan 275 luka-luka. Bencana itu mengakibatkan 4.292 rumah, 83 bangunan fasilitas umum, banyak infrastruktur rusak, dan juga menimbulkan longsor. Bangunan-bangunan itu terkesan tidak disiapkan menghadapi gempa sebesar tersebut.

Itu merupakan rangkaian gempa yang sudah berlangsung ratusan tahun. Kawasan patahan Sumatera memang aktif bergerak; di sisi bagian timur laut bergerak ke arah tenggara, sedangkan sisi yang lain bergerak ke barat laut. Patahan Sumatera memiliki 19 segmen di sepanjang Pulau Sumatera dengan panjang 1.900 km. Sejak 1892 hingga sekarang, telah terjadi 23 kali lebih gempa dengan skala di atas 6 SR di sana. Misalnya, gempa dan tsunami Aceh 2004, Nias 2005, dan gempa Padang 2009.

Gempa memang salah satu fenomena alam yang datang tiba-tiba, tidak dapat diprediksi, tidak bisa dihindari, dan tidak bisa dijinakkan. Para ahli kebumian selalu mengingatkan bahwa secara geologis, Indonesia merupakan kawasan geotektonik aktif karena ditumbuk oleh tiga lempeng tektonik penimbul gempa hampir di seluruh wilayah tanah air kita.

Penempatan satelit di angkasa dan teknologi GPS memungkinkan kita mengetahui kecepatan bergeraknya lempeng tektonik, yaitu 2-10 cm per tahun. Pada setiap pertemuan lempeng, akan timbul gempa, baik di permukaan maupun pada kedalaman tertentu. Karena lempeng aktif dan terus bergerak, gempa pun akan berulang dan terus berulang di kawasan yang sama.

Kalau kita plot lokasi dan distribusi gempa di Indonesia, hampir seluruh wilayah Indonesia tertutup oleh gempa. Itulah kenyataan yang harus kita terima dan harus diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia. Lokasi gempa dengan skala terbesar dan waktu ulang yang pernah terjadi merupakan data penting untuk berbagai upaya mendesain bangunan dan mengurangi risiko bencana gempa di masa yang akan datang.

Gempa Tidak Membunuh

Kadang-kadang dalam hati ini bertanya, mengapa gempa lagi dan korban lagi? Apa yang dilakukan pemerintah, atau lembaga penelitian, atau perguruan tinggi, atau masyarakat menyikapi masalah ini? Apakah masyarakat tidak tahu dan tidak pernah diberi tahu bahwa mereka bermukim di kawasan rawan gempa merusak?

Kita tengok sikap antisipatif negara lain yang rawan gempa. Pemerintah dan ilmuwan Jepang menganggap gempa adalah masalah serius bangsa. Karena itu, harus dicari pemecahannya. Dengan begitu, saat terjadi gempa lagi, korban manusia bisa dikurangi. Mereka melakukan mitigasi struktural dengan rekayasa bangunan dan fondasi tahan gempa. Mereka membuat sistem peringatan dini. Mereka juga melatih masyarakatnya, mulai TK hingga manula. Mereka sangat meng­hargai nyawa rakyatnya. Banyak pelajaran yang bisa ditiru dari langkah pemerintah, imuwan, dan kesadaran masyarakat Jepang tersebut.

Gempa tidak membunuh, tapi ketidaktahuan bisa membuat kita terbunuh. Ketidaktahuan mengakibatkan akal tidak berjalan normal sehingga saat terjadi gempa malah panik dan bingung. Seperti yang pernah terjadi saat gempa di Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, seorang bapak mau mengevakuasi anaknya, tapi yang terbawa dan digendong keluar adalah bantal guling, sedangkan anaknya tertinggal di rumah. Demikian juga, saat terjadi air laut tiba-tiba surut dan terlihat ikan besar menggelepar-gelepar, nelayan Aceh Besar berebut menuju ke pantai mengambil ikan sehingga korban tsunami 2004 sangat banyak. Kejadian tersebut terulang lagi saat terjadi tsunami di Pangandaran 2007.

Ketidaktahuan juga mengakibatkan percaya kepada rumor, bukan ilmu. Misalnya, rumor tsunami lima jam setelah gempa Jogja sehingga terjadi histeria massa dan chaos yang luar biasa. Banyak masyarakat Jogja seperti tidak pernah diberi tahu bahwa mereka bermukim di kawasan rawan gempa. Sudah sepantasnya masyarakat Indonesia umumnya, dan masyarakat Sumatera khususnya, menempatkan ”takdir” gempa sebagai bagian dari kehidupan mereka. Agar bisa segera menjadi bagian kehidupan mereka, pengurangan risiko bencana gempa harus dijadikan salah satu program prioritas dalam perencanaan pembangunan dengan segala dana dan sumber daya yang dimiliki untuk mendukung itu. Tanpa perencanaan yang matang, ikhtiar pembangunan kita bisa sia-sia oleh gempa sesaat.

Perkenalkan ke segenap kalangan langkah-langkah mitigasi, memperkenalkan tentang gempa dan cara-cara penyelamatan. Kemudian, melakukan penilaian kerentanan bangunan dan infrastruktur yang ada di wilayah rawan gempa untuk diperbaiki atau diperkuat. Harapan lebih jauh terbangun budaya keselamatan sehingga terbangun masyarakat antisipatif dan tangguh menghadapi berbagai bencana.

***

Ditulis oleh: Amien Widodo
Ketua Pusat Studi Kebumian Bencana dan
Perubahan Iklim ITS Surabaya

Sumber: Jawa Pos edisi 8 Juli 2013

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. .asslm, wr, wb, Bu haji dalam rangka Pembukaan Asian Games, boleh ga kami dapat undangan untuk bisa hadir di acara Pembukaan tgl 18/8/2018 nanti, Trima kasih atas berkenannya, wassalam trima kasih By, H.Achmad-Kaltim HP/WA. 081347906928

  2. Semangat pagi bu Hatifah. Saya Lettu Gunawan anggota Lanal Balikpapan (kita pernah bertemu di hotel grand Tjokro Balikpapan saat even sosialisasi Asian Games 2018) Mengenai pendidikan di daerah terpencil terutama perbatasan....mohon izin saya menyarankan : 1. Pembangunan fasilitas dan kualitas harus lebih baik dari pada negara tetangga jangan sampai terjadi seperti di daerah Kalimantan dimana masyarakat NKRI banyak yang menyeberang ke Malaysia untuk sekolah karena fasilitas lebih baik bahkan selama sekolah disana seluruh siswa mendapat fasilitas pinjam pakai laptop. RESIKO : mereka akan lebih mengetahui sejarah malaysia dan bahkan lagu kebangsaan malaysia 2. Khusus daerah terpencil rawan konflik pemberontakan....kami menyarankan mendayagunaan aparat TNI/POLRI yang berdinas didaerah tersebut untuk mengajar.....sehingga ada rasa aman bagi warga dan anggota TNI/POLRI tersebut memiliki tanggung jawab moral sekaligus memiliki kemauan untuk mengembangkan SDM nya dalam hal pendidikan. Demikian saran saya. Terima kasih

  3. Assalamu'alaikum wr wb. Yang Terhormat Ibu Hetifah Sjaifudian. Saya Safril, dari Institusi yang bergerak dalam kegiatan Pengembangan dan Peningkatan Kompetensi SDM khususnya di bidang Teknologi informasi dan Komunikasi untuk SMK dan SMA . Sejak tahun 2012 kami telah melakukan sosialisasi tentang pentingnya memberikan keahlian digital kepada siswa SMK maupun SMA untuk meningkatkan daya saing siswa setelah lulus. Hal ini mengingat masih cukup banyak lulusan SMK yang belum memperoleh kesempatan kerja. Dan yang sudah bekerja tidak sedikit memperoleh pekerjaan yang tidak sesuai dengan ilmu atau keahlian yang diperoleh di SMK. Mohon maaf kami tidak bermaksud memandang rendah suatu pekerjaan, akan tetapi banyak lulusan SMK yang menjadi petugas cleaning atau cleaning service, office boy dan sejenisnya. Kami hanya ingin memaksimalkan peluang pekerjaan yang terbaik yang dapat diperoleh oleh lulusan SMK, sehingga selama 3 tahun belajar dan berlatih tidak berakhir pada pekerjaan yang pada prinsipnya tidak memerlukan jenjang pendidikan menengah kejuruan. Sementara dibentuknya Badan Nasional Sertifikasi Profesi kurang memberikan dampak yang diharapkan. Dan para pemilik Sertifikat dari BNSP setiap tahun harus memperpanjang legalitas Sertifikatnya dengan biaya cukup mahal. Selain itu kami menilai adanya pemaksaan bagi SMK untuk menyelenggarakan Sertifikasi Profesi di SMK-SMK dengan dibentuknya LSP-LSP melalui Peraturan Menteri Pendidikan, yang jelas mengikat SMK untuk mengalokasikan Dana BOS untuk kegiatan BNSP. BNSP mengeluarkan sertifikat profesi berstandar nasional sedangkan kami mengeluarkan sertifikat keahlian digital bersatndar Internasional dan ditandatangani langsung oleh Produsen yang mengeluarkan produk-produk teknologi digital, seperti Microsoft, Adobe dan Autodesk. Untuk itu kami mohon dengan sangat kepada Yth. Ibu Hetifah Sjaifudian, untuk dapat memberikan solusi bagi kami agar dapat memberikan bimbingan berbasis kinerja dengan standar internasional kepada siswa SMK dan pada akhirnya siswa memperoleh sertifikat keahlian digital berstandar Internasional yang sudah diakui oleh kurang lebih 140 negara. Kami sudah melakukan konsolidasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak Musyawarah Kerja Kepala Sekolah dengan respon cukup positif akan tetapi hanya sebatas itu. Alasan utama yang kami terima adalah masalah pendanaan. Kami pada prinsipnya bukan bertujuan "memanfaatkan" Dana Bos atau anggaran pemerintah meskipun seharusnya memang demikian, akan tetapi visi dan misi kami lebih kepada memberikan solusi kepada pihak sekolah terutama kepada siswa yang nantinya menjadi SDM yang mampu bersaing dan memperoleh peluang kerja lebih besar. Bahkan kami memberikan alternatif agar siswa dapat menabung melalui Bank sehingga mampu untuk memenuhi biaya Sertifikasi yang kami selenggarakan dengan nominal yang sangat terjangkau. Untuk itu kami mohon dan sangat berharap untuk dapat bertemu Ibu dan memperoleh arahan serta dukungan agar visi dan misi kami dapat terwujud. Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan, kami mengucapkan terimakasih. Jika berkenan dan kami sangat senang menerima kabar baik dari Ibu melalui 081373264177

Lihat semua aspirasi