Masih Ada 31.623 Warga Kaltim Buta Huruf

Faktor geografis ternyata menjadi penyebab angka buta huruf di Kalimantan Timur (Kaltim) masih cukup banyak. Masyarakat yang tinggal di pedalaman dan terpencil, mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan.

Selain itu, pemukiman warga yang menyebar dan suka berpindah-pindah, menyulitkan warga, terutama anak-anak, memperoleh pendidikan. Terakhir yang tak kalah penting, faktor ekonomi juga berpengaruh. Para petani lebih senang anak-anak mereka mendapatkan penghasilan ketimbang bersekolah.

Menurut data masih ada 31.623 warga Kaltim yang buta huruf (Samarinda Post, 9/10). “Kami berharap tahun 2013 tidak ada lagi warga Kaltim yang buta huruf,” janji Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kaltim Drs. H. Musyahrim, MM.

Menurut Musyarim, dari 31.623 warga Kaltim yang buta huruf, 45 persen berada di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) atau 13.991 orang dari jumlah penduduk Kabupaten ini sebanyak 518.722 orang. Di bawah Kukar adalah Kabupaten Pasir, dimana buta aksara mencapai 6.463 orang.

Kabupaten yang paling minim penyandang buta huruf adalah Tarakan dan Nunukan. Kabupaten Tarakan yang penduduknya berjumlah 175.291 orang, tercatat 44 orang yang masih buta huruf. Sedangkan Nunukan yang jumlah penduduknya 125.421 orang hanya 14 orang yang buta huruf. Namun jumlah tersebut tentu bisa lebih banyak. Sebab, Musyarim mengaku, salah satu kendala yang dialami tim pendataan Disdik Kaltim adalah penyandang buta huruf malu mengakui kalau mereka buta huruf.

“Kita justru mengetahui dari informasi masyarakat sekitar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang kami bentuk,” ujar Musyahrim.

Meski Kaltim masih memiliki 31.623 warga yang buta huruf, secara makro Kaltim tetap menjadi provinsi yang berhasil menuntaskan buta aksara dibanding provinsi lain. Menurut data Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Kaltim berhasil menuntaskan buta aksara 1,78 persen dari 5 persen penyandang buta aksara tingkat nasional.

Keberhasilan Kaltim dalam menuntaskan buta aksara menjadikan provinsi ini didaulat menjadi tuan rumah perhelatan internasional, yakni Hari Aksara Internasional (HAI) ke-45 yang diselenggarakan minggu lalu (7-14 Oktober 2010) di Gedung Dome, Balikpapan, Kaltim. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Nuh, DEA sempat memberikan penghargaan kepada Kepala Daerah yang peduli terhadap pemberantasan buta huruf. Mereka adalah 5 Gubernur, 5 Walikota, dan 9 Bupati se-Indonesia.

Sekadar info, saat ini tercatat 8,7 juta jiwa warga Indonesia tidak bisa membaca. Sebanyak 7 juta jiwa adalah dewasa berumur 45 tahun, 1 juta jiwa usia 24-44 tahun, dan sisanya adalah remaja berusia 14 tahun.

“Diperoyeksikan beberapa waktu ke depan akan berkurang menjadi 8,3 juta jiwa,” ujar Direktur Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal Informal (PNFI) Kemendiknas Dr. Ella Yulaelawati, PhD.

Kaltim memang cukup serius menuntaskan buta huruf. Menurut Wakil Gubernur Farid Wadjdy, dengan slogan Kaltim Cemerlang (Cerdas, Merata, Prestasi gemilang), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim akan memperhatikan tiga aspek penting dalam memajukan pendidikan. Yakni akses, mutu, dan tata kelola, serta akuntabilitas publik.

“Momentum peringatan Hari Aksara Internasional sangat baik untuk peningkatan penanganan PNFI,” ujar Wagub Farid Wadjdy seperti dilansir harian Kaltim Post (Minggu/10/10).

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalamualaikum ibu, saya dari perwakilan komunitas musik samarinda yang tergabung dalam komunitas musik borneo metalcamp, ingin mengajukan proposal kepada ibu sebagai donatur.. Apabila di izinkan kita ingin mengirim proposal.. Mohon di respon ibu.. Wassalamualaikum

  2. Selamat Hari Kartini untuk Ibu Hetifah Semangat dan Teruslah mendorong keterlibatan peran perempuan dalam keterwakilannya di Parlemen. Sebab tanpa perempuan, maka demokrasi kita masih stagnan. Salam Kartini Indonesia !!! Selamat Berjuang ! Selamatkan Perempuan Indonesia dari Ketertindasan...

Lihat semua aspirasi