Maria Keling dan Hetifah Sjaifudian

Maria Keling: Sang Aktivis dari Pedalaman

Bagi Maria Keling (30 tahun), perjalanan ke Jakarta merupakan perjalanannya pertama kali, apalagi menginjakkan kaki di gedung wakil rakyat–Gedung DPR/MPR RI. Perjalanannya kali ini didasarkan atas semangat dan motivasi untuk memperjuangkan dan menyuarakan hak-hak perempuan pedalaman.

Maria Keling adalah aktivis perempuan asal Desa Kalian Luar, Kecamatan Long Iram, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Long Iram merupakan kecamatan di daerah hulu Sungai Mahakam. Bisa dibayangkan perjalanannya menuju Jakarta harus dia tempuh dengan menggunakan kapal menyusuri Sungai Mahakam menuju Samarinda, selanjutnya ke Balikpapan dengan angkutan darat dan lalu terbang ke Jakarta. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih dua hari.

Hari pertama di Jakarta, Maria mendatangi acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Perempuan Indonesia (Hapsari) bertajuk Forum Dialog Nasional Komunitas Perempuan Basis, yang melibatkan Pemerintah RI, DPR, maupun DPD RI. Tujuan adanya forum ini adalah untuk mewujudkan komitmen penghapusan kemiskinan perempuan; masalah yang sangat relevan dengan apa yang diperjuangkan Maria.

Acara seperti ini adalah kegiatan rutin Hapsari dalam rangka membangun silaturahmi dan menjalin relasi, melakukan dialog, saling berbicara langsung, dan saling mendengar antara komunitas perempuan basis yang menjadi anggota Hapsari di desa-desa dengan pemerintah dan wakil rakyat. Pertemuan ini juga memiliki arti penting untuk mewujudkan komitmen dari pemerintah, DPR, dan DPD dalam tindakan nyata mendukung advokasi dalam upaya pemenuhan hak-hak ekonomi perempuan miskin dan akses perempuan terhadap sumber-sumber ekonomi.

“Saya merasa senang bisa mewakili pulau Kalimantan dalam acara ini, sehingga saya bisa memiliki kesempatan menyampaikan secara langsung aspirasi perempuan Kalimantan, dan bisa saling berbagi pengalaman dengan para aktivis lainnya,” ujar perempuan sederhana ini.

Maria adalah salah satu Dewan Pengawas Perkumpulan Serikat Perempuan Dayak Kalimantan Timur. Dia bergabung ke perkumpulan ini sejak delapan tahun lalu. Konsentrasi Maria saat ini adalah berupaya membangun ekonomi masyarakat lokal dengan memberdayakan kaum perempuannya. Kemampuan Maria sangat berguna bagi organisasinya yang kerap memberikan berbagai macam  pendidikan bagi kaum perempuan. “Nurani saya sebagai Perempuan Dayak sangatlah ingin menaruh kepedulian utamanya terhadap nasib perempuan, khususnya perempuan adat Dayak, yang sering mengalami tindakan ketidakadilan dalam dalam kehidupan sehari-harinya,” tegasnya.

Hari kedua di Jakarta, Maria berkesempatan berkunjung ke gedung wakil Rakyat, DPR RI. Mencari gedung DPR bukanlah pekerjaan mudah bagi Maria yang baru pertama kali menginjakkan kaki di ibukota negara ini. Dijemput oleh Hetifah (anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar), Maria akhirnya sampai ke Gedung DPR/MPR RI. “Saya kagum dengan semangatnya, dia berjuang tanpa mempedulikan hiruk-pikuk popularitas, berjuang di daerah pedalaman. Dia adalah perempuan Dayak yang benar-benar ingin mengabdikan dirinya untuk kemajuan perempuan Dayak di pedalaman, luar biasa,” terang Hetifah.

“Saya mengundangnya ke DPR untuk bertukar pikiran secara lebih mendalam tentang masalah-masalah yang dia perjuangkan, sehingga kami bisa lebih sensitif terhadap situasi yang dihadapi  masyarakat di pedalaman, khususnya perempuan”, lanjut Hetifah sambil menunjukkan kekagumannya. Hetifah terlihat sangat antusias mendengarkan dan merespon apa yang diceritakan oleh Maria. Maria menyampaikan aspirasi terkait dengan berbagai kegiatan-kegiatan perempuan pedalaman yang masih minim dukungan. Maria berharap para perempuan mempunyai ketrampilan yang bagus dan mumpuni juga pendidikan yang memadai untuk dapat hidup lebih baik.

Ditambahkannya saat ini sangat banyak perusahaan-perusahaan “pengeruk” Sumber Daya Alam (SDA) daerahnya yang dengan serta merta menguasai lahan-lahan yang dulu notabene adalah daerah penghasil bahan untuk kehidupan sehari-hari masyarakat di sana. Sedikit banyak, aktivitas ini semakin menekan kesempatan para perempuan untuk memiliki akses terhadap pemenuhan hak-hak ekonominya.

“Saya itu seperti tidak percaya bisa bertemu langsung, bahkan dijemput oleh ibu Hetifah, walaupun saya sudah lama mendengar tentang beliau. Dengan bertemu langsung semoga apa yang telah saya uraikan dapat direalisasikan,” ungkap Maria mengakhiri obrolan santai siang itu.

Bagi Maria, perjalanannya ke Jakarta tentu tidak membawa berita tentang indahnya mall, mobil-mobil mewah serta gedung-gedung pencakar langit ke kampung halamannya, melainkan cerita yang akan menjadi pekerjaan rumah dalam menjaga konsistensinya memperjuangkan hak-hak perempuan di daerah pedalaman.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. .asslm, wr, wb, Bu haji dalam rangka Pembukaan Asian Games, boleh ga kami dapat undangan untuk bisa hadir di acara Pembukaan tgl 18/8/2018 nanti, Trima kasih atas berkenannya, wassalam trima kasih By, H.Achmad-Kaltim HP/WA. 081347906928

  2. Semangat pagi bu Hatifah. Saya Lettu Gunawan anggota Lanal Balikpapan (kita pernah bertemu di hotel grand Tjokro Balikpapan saat even sosialisasi Asian Games 2018) Mengenai pendidikan di daerah terpencil terutama perbatasan....mohon izin saya menyarankan : 1. Pembangunan fasilitas dan kualitas harus lebih baik dari pada negara tetangga jangan sampai terjadi seperti di daerah Kalimantan dimana masyarakat NKRI banyak yang menyeberang ke Malaysia untuk sekolah karena fasilitas lebih baik bahkan selama sekolah disana seluruh siswa mendapat fasilitas pinjam pakai laptop. RESIKO : mereka akan lebih mengetahui sejarah malaysia dan bahkan lagu kebangsaan malaysia 2. Khusus daerah terpencil rawan konflik pemberontakan....kami menyarankan mendayagunaan aparat TNI/POLRI yang berdinas didaerah tersebut untuk mengajar.....sehingga ada rasa aman bagi warga dan anggota TNI/POLRI tersebut memiliki tanggung jawab moral sekaligus memiliki kemauan untuk mengembangkan SDM nya dalam hal pendidikan. Demikian saran saya. Terima kasih

  3. Assalamu'alaikum wr wb. Yang Terhormat Ibu Hetifah Sjaifudian. Saya Safril, dari Institusi yang bergerak dalam kegiatan Pengembangan dan Peningkatan Kompetensi SDM khususnya di bidang Teknologi informasi dan Komunikasi untuk SMK dan SMA . Sejak tahun 2012 kami telah melakukan sosialisasi tentang pentingnya memberikan keahlian digital kepada siswa SMK maupun SMA untuk meningkatkan daya saing siswa setelah lulus. Hal ini mengingat masih cukup banyak lulusan SMK yang belum memperoleh kesempatan kerja. Dan yang sudah bekerja tidak sedikit memperoleh pekerjaan yang tidak sesuai dengan ilmu atau keahlian yang diperoleh di SMK. Mohon maaf kami tidak bermaksud memandang rendah suatu pekerjaan, akan tetapi banyak lulusan SMK yang menjadi petugas cleaning atau cleaning service, office boy dan sejenisnya. Kami hanya ingin memaksimalkan peluang pekerjaan yang terbaik yang dapat diperoleh oleh lulusan SMK, sehingga selama 3 tahun belajar dan berlatih tidak berakhir pada pekerjaan yang pada prinsipnya tidak memerlukan jenjang pendidikan menengah kejuruan. Sementara dibentuknya Badan Nasional Sertifikasi Profesi kurang memberikan dampak yang diharapkan. Dan para pemilik Sertifikat dari BNSP setiap tahun harus memperpanjang legalitas Sertifikatnya dengan biaya cukup mahal. Selain itu kami menilai adanya pemaksaan bagi SMK untuk menyelenggarakan Sertifikasi Profesi di SMK-SMK dengan dibentuknya LSP-LSP melalui Peraturan Menteri Pendidikan, yang jelas mengikat SMK untuk mengalokasikan Dana BOS untuk kegiatan BNSP. BNSP mengeluarkan sertifikat profesi berstandar nasional sedangkan kami mengeluarkan sertifikat keahlian digital bersatndar Internasional dan ditandatangani langsung oleh Produsen yang mengeluarkan produk-produk teknologi digital, seperti Microsoft, Adobe dan Autodesk. Untuk itu kami mohon dengan sangat kepada Yth. Ibu Hetifah Sjaifudian, untuk dapat memberikan solusi bagi kami agar dapat memberikan bimbingan berbasis kinerja dengan standar internasional kepada siswa SMK dan pada akhirnya siswa memperoleh sertifikat keahlian digital berstandar Internasional yang sudah diakui oleh kurang lebih 140 negara. Kami sudah melakukan konsolidasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak Musyawarah Kerja Kepala Sekolah dengan respon cukup positif akan tetapi hanya sebatas itu. Alasan utama yang kami terima adalah masalah pendanaan. Kami pada prinsipnya bukan bertujuan "memanfaatkan" Dana Bos atau anggaran pemerintah meskipun seharusnya memang demikian, akan tetapi visi dan misi kami lebih kepada memberikan solusi kepada pihak sekolah terutama kepada siswa yang nantinya menjadi SDM yang mampu bersaing dan memperoleh peluang kerja lebih besar. Bahkan kami memberikan alternatif agar siswa dapat menabung melalui Bank sehingga mampu untuk memenuhi biaya Sertifikasi yang kami selenggarakan dengan nominal yang sangat terjangkau. Untuk itu kami mohon dan sangat berharap untuk dapat bertemu Ibu dan memperoleh arahan serta dukungan agar visi dan misi kami dapat terwujud. Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan, kami mengucapkan terimakasih. Jika berkenan dan kami sangat senang menerima kabar baik dari Ibu melalui 081373264177

Lihat semua aspirasi