Hetifah: Lembaga Advokasi Penonton Belum Efektif

Selasa (24/8) lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengungkapkan beberapa tayangan televisi yang tidak sesuai dengan spirit Ramadhan. Tayangan-tayangan tersebut merupakan hasil dari pemantauan tim MUI selama 10 hari pertama Ramadhan tahun 2010 ini.

Tim pemantauan MUI menilai setidaknya ada 11 tayangan yang minim edukasi selama Ramadhan, antara lain Wayang on Stage (ANTV), Cerita Pagi (TPI), Mister Olga (RCTI), sinetron Ustad Jaka dan Surga Untukmu (Indosiar), dan Saatnya Kita Sahur (TransTV). Menurut Sekjen MUI Ichwan Sam, kesebelas tayangan itu dikotori oleh adegan-adegan yang tak pantas. Yang dimaksud adegan tak pantas adalah dialog yang mengandung unsur merendahkan, memperolok, melecehkan sesama, serta makian kasar. Bahkan tak jarang komedi situasi pada saat buka puasa maupun sahur diisi adegan pukul-memukul atau dorong-mendorong, meski dengan menggunakan styrofoam.

”Tayangan televisi non-berita selama bulan puasa selayaknya memberi dukungan yang kondusif dalam menjaga kemuliaan Ramadhan,” ujar Ichwan. ”Untuk itu, kita membatasi dari pendengaran dan penglihatan yang tidak positif.”

20091015 032206 tv2 Hetifah: Lembaga Advokasi Penonton Belum Efektif

Mengomentari tayangan yang tidak sesuai dengan spirit Ramadhan, anggota DPR RI Komisi X Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP turut mengomentari. Bahwa tayangan tersebut bukan cuma ditonton oleh orang dewasa. Faktanya, anak-anak juga menonton. Itulah yang membuat Hetifah khawatir, Indonesia akan melahirkan kembali anak-anak yang suka memukul, mendorong, dan melecehkan sesama, karena mereka mencontoh tayangan di televisi.

”Tentu kita tidak ingin anak-anak serta generasi muda kalah dengan tayangan-tayangan televisi,” papar Hetifah.

Sekadar info, pemantauan yang dilakukan MUI ini bekerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Adapun tim pemantau terdiri dari S. Sinansari Ecip (Ketua Tim Pemantau Tayangan MUI), Imam Suhardjo (Wakil Ketua), Ichwan Sam (Sekjen MUI), Zainut Tauhid (Wakil Sekjen MUI Pusat), dan beberapa anggota lain. Pemantauan acara Ramadhan di televisi seperti ini telah dilakukan sejak 1997.

Dalam proses pemantauan, MUI mengacu ke Undang-Undang (UU) Penyiaran dan Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), KPI, dan fatwa MUI. Tim memantau 12 stasiun televisi, yaitu TVRI, TPI, RCTI, SCTV, ANTV, MetroTV, Indosiar, TransTV, Trans7, Global TV, tvOne, dan O’Channel.

”Kegiatan memonitoring ini adalah sebagai wujud proaktif MUI mengontrol konsistensi aturan yang berlaku,” kata Ichwan.

illustrationbraincomicdrawingkillyourtelevisionpsychology 45eac55563388ed7e6ccae17d4d975b7 h Hetifah: Lembaga Advokasi Penonton Belum Efektif

Mengenai konsistensi, menurut Hetifah, lembaga-lembaga penyiaran memang belumlah efektif. Fakta di lapangan, banyak tayangan yang tidak mendidikan tetap bisa tayang. Bukan cuma pada saat Ramadhan, tetapi sebelum Ramadhan pun begitu. Sebetulnya UU sudah ada, tetapi belum dijalankan dengan konsisten. ”Itukah kenapa menurut saya, lembaga-lembaga yang sebetulnya bisa mengadvokasi penonton dari tayangan-tayangan negatif televisi belum berfungsi”.

Tambah Ichwan, selayaknya tayangan-tayangan di bulan Ramadhan membawa dampak bagi terciptanya suasana kehidupan yang sejuk. Jangan sampai Ramadhan justru dikotori oleh adegan-adegan yang tidak sesuai dengan spirit Ramadhan.

”Stasiun televisi seharusnya jangan hanya mengejar orientasi bisnis semata. Pertimbangkan juga orientasi edukasi keagamaan,” kritik S. Sinansari Ecip yang menilai tayangan keagamaan yang kontruktif dan inspiratif sangat sedikit ini.

Seperti yang dikatakan Hetifah di atas tadi, bahwa penonton televisi bukan hanya dari kalangan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Koalisi Nasional sempat melakukan penelitian, pola menonton televisi terutama pada anak. Bahwa hasil penelitian terungkap, rata-rata anak Indonesia menonton televisi selama 3-5 jam sehari atau 30-35 jam seminggu. Tayangan yang mereka tonton, di antaranya adalah tayangan anak yang tidak aman, sinetron, infotainment, reality show, dan beberapa tayangan lain. Menurut Koalisi, tayangan-tayangan tersebut jelas dapat mengganggu dan bahkan merusak masa kanak-kanak mereka, karena dunia orang dewasa masuk ke dalam pikiran anak-anak.

”Momentum ini seharusnya juga juga menjadi upaya untuk melakukan hal yang mendasar, yakni merumuskan kembali UU yang secara tegas bisa melindungi anak-anak dari pengaruh negatif televisi,” tegas Hetifah.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalamualaikum ibu, saya dari perwakilan komunitas musik samarinda yang tergabung dalam komunitas musik borneo metalcamp, ingin mengajukan proposal kepada ibu sebagai donatur.. Apabila di izinkan kita ingin mengirim proposal.. Mohon di respon ibu.. Wassalamualaikum

  2. Selamat Hari Kartini untuk Ibu Hetifah Semangat dan Teruslah mendorong keterlibatan peran perempuan dalam keterwakilannya di Parlemen. Sebab tanpa perempuan, maka demokrasi kita masih stagnan. Salam Kartini Indonesia !!! Selamat Berjuang ! Selamatkan Perempuan Indonesia dari Ketertindasan...

Lihat semua aspirasi