Bukan Sembarangan Siput

Luar biasa sekali pemuda berusia 21 tahun ini. Selama ini, jarang sekali anak muda yang melakukan langkah konkret untuk memperbaiki pemilihan umum (Pemilu) di Indonesia. Kebanyakan mahasiswa hanya protes atau demonstrasi yang seringkali mengarah ke anarki. Namun tidak dengan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) ini.

Ia bernama Salman Salsabila. Ia berhasil membuat sebuah sistem electronic voting (e-voting). Karya yang disebut sebagai Sistem Pemilihan Umum Terintegrasi (Siput) tersebut merupakan karyanya dalam rangka lomba rancang bangun yang diselenggarakan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

PA050348 Bukan Sembarangan Siput
Salman, membuat e-voting, karena kesal selalu ada kecurangan dalam pemilihan umum.

Siput ini bukan sembarangan alat, bahkan jenis binatang. Siput ini memiliki sistem keamanan data yang tak mudah ditembus oleh siapapun, termasuk alat apapun. Berbeda sekali dengan sistem yang dijalankan di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Oleh karena itu, Siput ini canggih dan bisa dipercaya oleh pemilih maupun peserta pemilu. Hebatnya lagi, aplikasinya tidak rumit dan relatif murah.

“Ini bisa dikembangkan di Pemilu 2014 mendatang,” ujar pria kelahiran Cirebon ini.

Awal ketertarikan Salman membuat Siput ini, karena kekesalannya pada Pemilu yang selalu saja ada kecurangan dalam perhitungan suara. Ia kemudian melihat, e-voting sudah dilakukan jauh hari dan beberapa kali di Kabupaten Jembrana, Bali saat pemilihan kepala dusun (pilkadus). Ia begitu kagum.

“Saya geregetan melihat Jembrana berhasil di pilkadus, tapi kenapa tak bisa diterapkan di pemilu kada?” ujar pria yang kini tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Komputer UI ini.

Salman kemudian membuat sistem yang lebih canggih, lebih aman, dan murah. Bahan-bahan referensinya juga berasal dari jurnal-jurnal luar negeri. Berbagai e-voting dari negera-negara luar, ia pelajari, termasuk di India, Amerika Serikat, hingga Estonia di Eropa.

Ternyata BPPT tertarik dengan karya Salman. Tak heran pria ini akhirnya dinobatkan sebagai pemenang lomba rancang bangun sistem. Sebagai hadiah, ia mendapatkan dana senilai Rp 20 juta.

“Uang tersebut saya akan gunakan untuk membuat minimal satu prototipe Siput, mudah-mudahan cukup. Jadi, tidak perlu menunggu BPPT lagi.”

Soal kecurangan dalam pemilian umum yang sering terjadi, memang diamini oleh Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP. Ia pernah beberapa kali mengalami pengalaman tersebut, salah satunya ketika Pemilu tahun 2009 lalu. Ia hampir saja gagal masuk menjadi anggota parlemen, lantaran dalam perhitungan suara, ada suara Hetifah yang hilang dan masuk ke calon lain. Namun berkat kerja keras tim sukses, Hetifah berhasil mewakili daerah pemilihan Kalimantan Timur (Kaltim).

“Pasti karya Salman sangat berguna buat bangsa ini,” komentar Hetifah.

Selamat untuk Salman. Anda luar biasa!

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Kami Warga Kota Samarinda, Yth. Ibu Hetifah Sampaikan suara kami kepada bpk. Walikota Samarinda bahwa kami merindukan kota layak, Indah dan bersih agar bisa menghapus sebagai icon kota semrawuk di Kalimantan

  2. Yth. Ibu Hetifah Perkenalkan saya Yudha Budisantosa, Camat Tanjung Redeb Kab.Berau-Kaltim. Jika Ibu ke Berau tolong singgah di Kantor Camat Tanjung Redeb, kami ingin memperkenalkan Inovasi : Gerbang Pancasila atau Gerakan Bangga dengan Pancasila.

Lihat semua aspirasi