Belajar dari Parlemen di Amerika
Jabatan Tenaga Ahli (TA) dalam membantu pekerjaan anggota DPR saat ini masih dianggap remeh. Betapa tidak, fungsi dan tanggung jawab-nya masih disinonimkan dengan pembantu. Padahal, seorang TA idealnya adalah jabatan profesional, dimana segala keputusan yang dilontarkan oleh anggota DPR, juga merupakan hasil diskusi dan pemikiran dari seorang TA.
“Harusnya TA memang profesional,” komentar anggota DPR RI Dr. Hetifah Sjaifudian, MPP, PhD kemarin (Senin/02/7) di sela-sela Masa Reses sampai dengan tanggal 15 Agustus 2010 mendatang, setelah menjalankan Masa Sidang IV. “Namun TA di parlemen kita tergantung dari anggotanya masing-masing.”

Hetifah (tiga dari kanan), anggota DPR RI, yang sangat peduli pada profesionalitas Tenaga Ahli, sedang memberikan penjelasan mengenai pentingnya TA dalam melakukan riset.
Lanjut Hetifah, ada anggota yang kebetulan berlatar belakang peneliti seperti dirinya, yang butuh TA yang selalu haus dengan referensi. Tiap akan bersidang, bahan-bahan sidang harus dikumpulkan dan di-summery oleh TA. Selain itu, TA juga harus memberikan usulan baik dan buruk dari kebijakan yang akan diusulkan dalam sidang.
“Jadi bukan sekadar mengumpulkan bahan dan setelah itu selesai,” tambah Hetifah.
Namun di DPR RI, TA tergantung dari anggota. Ada anggota yang tidak begitu suka dengan referensi-referensi yang sudah disiapkan TA, ada yang anggota yang wajib memiliki referensi. Jangan heran, jika ada sebagian TA yang frustrasi dengan pekerjaannya. Begitu sudah disiapkan bahan-bahan sidang, anggota tidak butuh. Sebaliknya, ketika anggota butuh, TA tidak menyiapkan, karena TA-nya malas untuk meneliti atau meriset bahan-bahan.
Menurut Hetifah, meski fakta di lapangan terjadi seperti itu, bukan berarti TA tidak profesional. Oleh karena itu, sejak kemarin (Senin/02/07) sampai hari ini, DPR RI menyelenggarakan pelatihan untuk para TA bekerjasama dengan United States Aid International Developtment (USAID). Yang menjadi pembicara dari USAID adalah William H. Robinson dan Francis Miko.

Sebagian TA yang mengikuti pelatihan oleh dua narasumber dari USAID.
Robinson adalah pensiunan senior TA di DPR Amerika Serikat khusus Kebijakan Publik. Ia sudah 34 tahun berkarir di parlemen Amerika, dimana melayani riset untuk masalah-masalah kebijakan publik. Sementara Miko dikenal sebagai konsultan dalam bidang tata pemerintahan dan kebijakan publik.
Papar Robinson, seorang TA harus bisa mengidentifikasikan masalah. Dengan melakukan pekerjaan itu, maka TA mengerti rancangan undang-undang yang akan dibahas oleh anggota. Kemudian TA melakukan analisis dengan mengusulkan kemungkinan penyebab permasalahannya. Tandai akibat permasalahan serta gambarkan cara-cara alternatif dalam mengurus masalah tersebut pada anggota.
“Diskusikan masalah-masalah sensitif dalam bentuk pertanyaan pada anggota,” papar Robinson. “TA juga boleh menyimpulkan sesuatu tentang besarnya permasalahan, jika TA pikir bahwa datanya cukup kuat.”
Miko memberikan tips pada TA, karena ia tahu tidak semua anggota suka dengan data. Bahwa selalu tanyakan pada anggota, data apa yang dibutuhkan, supaya TA tidak frustasi. Lalu TA juga harus menanyakan seberapa besar tugas dan tanggung jawabnya dengan anggota yang bersangkutan, sehingga pada saat melakukan kerja sesuai dengan wilayah kerja yang profesional.
“Namun sebagai TA, anda harus terus mengembangkan diri dan berwawasan luas, meski anggota tidak membutuhkan hasil riset atau resume Anda,” ujar Miko yang lulusan George Washington University School jurusan Public and International Affairs ini.


Facebook
Twitter 






Sya pernah kenal dengan bu Hetifah ketika di kampus ITB,sya kebetulan Pegawai ITB.Sya kagum, dan sangat berharap bu Heti dan mas Sis jadi pejabat yang mencintai rakyat kecil, sekaligus turba ke berbagai pelosok agar jeritan si kecil bisa terdengar.Wassalam. Ida. Rukmana, Pgegawai ITB.Nuhun.
Silahkan Tinggalkan Komentar