Angkat Isu Banjir Samarinda di Pusat

Senayan (20/2) — Anggota Komisi V DPR RI Hetifah menyayangkan Dirjen Sumber Daya Air Kemen-PU Muhammad Amron dalam RDP dengan Komisi V DPR RI hari ini yang tidak menyinggung isu dan program pengendalian banjir di Kalimantan, khususnya Samarinda sebagai prioritas. Padahal Kalimantan merupakan wilayah yang memiliki sungai-sungai besar seperti Mahakam, Barito, Kapuas, dll.

Menurut Hetifah, kalimantan merupakan ranking pertama permasalahan banjir di Indonesia. Sekitar 40% kejadian banjir di Indonesia terjadi di kalimantan yang 30% diantaranya terjadi di Kaltim. Samarinda merupakan daerah yang menjadi langganan banjir di kalimantan.

“Penanganan masalah banjir ini penting bagi masyarakat di Kalimantan, terutama bagi warga Samarinda yang setiap tahun mengalami banjir. Pemerintah harus memperhatikan hal ini lebih serius karena sangat mengganggu,” ujar Anggota DPR RI Dapil Kaltim ini.

Ada beberapa penyebab banjir yang terjadi, antara lain luapan sungai Mahakam dan anak-anak sungainya serta perubahan tata guna dan pemanfaatan lahan ( untuk tambang batu bara dan pembangunan kawasan pemukiman).

Untuk itu, Hetifah menegaskan perlu dilakukan berbagai upaya dalam mengendalikan masalah ini. “Sinergitas antar level  (kota, propinsi dan pusat) menjadi salah satu hal penting untuk dipertimbangkan, karena pengelolaan wilayah sungai mahakam menjadi tanggung jawab dan kewenangan pemerintah pusat (melalui balai wilayah sungai Kalimantan III).”

Secara khusus, Hetifah pertanyakan peran balai. “Sejauh mana peran Balai dalam pengendalian banjir (Balai Wilayah sungai/GWS Kalimantan III) sungai mahakam dan anak-anak sungainya? Apa strategi pemerintah pusat (BWS Kalimantan III) dalam pengendalian Banjir Kalimantan Timur, dan secara khusus Kota Samarinda?

Menurut Anggota Fraksi Partai Golkar ini, dari data yang diterimanya dari daerah, ada usulan dari gubernur  ada komitmen sharing dari pusat dalam menyelesaikan masalah banjir Kota Samarinda. Dari usulan Tim Pengendalian Banjir terpadu unsur Kota Samarinda, Provinsi Kaltim dan Pusat, dibutuhkan 3,4 Triliun dengan komposisi 1,2 Triliun dari pusat, 1,4 Triliun dari provinsi, dan 800 Miliar dari Kota Samarinda.

“Namun sejak tim dibentuk (2002) dalam realisasinya pusat hanya menyumbang sekitar 150 M.  Itupun hanya untuk sungai Karang Mumus. Sedangkan propinsi sudah mengalokasikan dana sekitar 600 M (untuk tahun 2012-2013 dari nilai sharing 1,4 Triliun),” gugat Hetifah.

Tata Ruang

Hetifah juga mempertanyakan mengapa di masa lalu pemda Kota Samarinda dibiarkan melanggar tata ruang dan pembinaan dari pemerintah pusat. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI dengan Dirjen Cipta Karya KemenPU, Dirjen Sumber Daya Air KemenPU (dengan turut menghadirkan para Kepala Balai yang memiliki program penanggulangan banjir), dan Dirjen Penataan Ruang KemenPU tersebut, Hetifah juga berharap ke depan diharapkan Dirjen Penataan Ruang KemenPU mengkaji kerentanan wilayah Samarinda. “Kemen-PU harus mendukung serta memfasilitasi Pemkot Samarinda melaksanakan Undang-Undang Penataan Ruang secara konsisten,” kata Hetifah.

Hetifah berharap Komisi V DRR RI dalam kesempatan pertemuan hari ini, dipertemukannya Kabid SDA Provinsi dengan Dirjen SDA dan Direktur Sungai dapat segera untuk bersama menindaklanjuti lebih serius masalah ini.

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Terima kasih banyak bapak Harmen Batubara, atas dukungan melalui tulisannya. Kita membutuhkan orang-orang seperti bapak agar kedepan, segala permasalahan perbatasan dapat segera diselesaikan.

  2. Assalamu alaikum wr wb Pertama-tama kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Ibu terhadap perbatasan, khususnya Kaltara. Sejak lama kami belum lagi menemukan Tokoh yang mengusung masalah-masalah perbatasan dalam tugas tugasnya. Karena itu kami menurunkan sebuah tulisan dengan judul: http://www.wilayahperbatasan.com/hetifah-syaifudian-kalau-bnpp-nggak-mampu-bubar-saja/ Mohon maaf kalau ibu kurang berkenan, karena tanpa konsultasi terlebih dahulu. Kami sejak tahun 2009 telah menjadi penyambung lidah masalah-masalah perbatasan ke siapa saja yang berkenan mau mendengarkannya. Kami juga ada di www.bukuperbatasan.com sebuah upaya mengangkat masalah perbatasan dalam dunia literasi. Juga kami ada di www.wilayahpertahanan.com suatu upaya untuk memperkuat pertahanan di wilayah perbatasan. Semoga Ibu diberi kesehatan, kekuatan sehingga dapat terus mengelaborasi masalah masalah perbatasan biar suatu saat wilayah itu benar-benar jadi etalase bangsa, menjadi halaman depan bangsa-salam dari kami www.wilayahperbatasan.com

  3. Assalamu'alaikum Wr. Wb. Bu Hetifah. Alhamdulillah kita bisa berjumpa lagi meskipun dalam situasi yang berbeda. Saya Ari Wibowo warga Samarinda Kaltim mantan Wakil Direktur Keuangan Rumah Sakit Islam Samarinda yang kini sudah diambil kembali oleh Pemprov Kaltim. Saya pernah bertemu ibu ketika berkunjung ke RSI Samarinda sekitar tahun 2014 kalau tidak keliru. Alhamdulillah bu, sekarang ibu bisa kembali duduk menjadi anggota DPR RI dimana pemilu yang lalu pun saya memilih ibu. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan berkenaan dengan situasi ekonomi Kaltim dan Kaltara saat ini dimana ibu juga merasa prihatin dengan kondisi perbatasan khususnya. 1. Jika melihat neraca perdagangan Kaltim yang dirilis oleh BPS, mungkin semua pihak khususnya pemerintah daerah akan berbesar hati karena neraca perdagangannya selalu surplus luar biasa karena dalam perhitungan neraca perdagangan termasuk didalamnya adalah ekspor migas dan minerba. Pernahkah kita berpikir bahwa sektor migas dan minerba lebih banyak dinikmati oleh pemerintah pusat saja ?. Jadi menurut saya, sebaiknya sektor tersebut tidak perlu diperhitungkan guna mengetahui kemandirian masyarakat Kaltim. 2. Sebagai anggota masyarakat Kaltim, saya sangat prihatin terhadap potensi daerah yang tidak dikembangkan sedemikian rupa sehingga Kaltim menjadi wilayah yang rentan terhadap tekanan ekonomi. Sebagai contoh sekitar tahun 2011-2012 harga batubara dunia mengalami penurunan yang tajam sampai-sampai banyak pengusaha batubara gulung tikar. Dampaknya mulai terasa pada 2014 dimana arus penumpang di bandara Sepinggan Balikpapan turun drastis hingga mencapai 50% dan sektor-sektor penunjang juga otomatis mengalami penurunan akibat "Multiplier effect" dan juga mengalami kebangkrutan. Itulah gambaran Kaltim yang sesungguhnya. Wilayah yang kaya akan sumber daya alam namun masyarakatnya tidak mampu menghadapi perubahan global. Ibu bisa bayangkan kalau 80% - 90% bahan kebutuhan pokok Kaltim harus didatangkan dari propinsi lain. Mulai dari beras, gula, minyak makan, sayur mayur, daging sapi, dll. Ibarat keluarga, Kaltim adalah konsumen yang seksi, segala kebutuhan pokoknya harus didatangkan dari luar. Ini semua tidak terlepas dari peran seorang Kepala Daerah yang kurang mempunyai sense of entrepreneurship mulai jaman banjir cup, sawit dan terakhir batubara. Kita bandingkan dengan tetangga kita di Sulawesi Selatan. Hampir 60% kebutuhan pokok Kaltim didatangkan dari Prov. Sulsel dan sisanya didatangkan dari provinsi lain, sementara apa yang dijual Kaltim keluar daerah ? Hampir 90 % hanya berasal dari sektor migas dan minerba. Itupun hasilnya tidak kembali ke Kaltim karena sebagian besar hasilnya hanya lari ke pusat saja dan ke luar negeri. Contoh seperti Banpu dan KPC yang menguasai sektor batubara di Kaltim adalah perusahaan milik Thailand dan Australia. Saran saya ibu sebagai wakil kami di DPR RI adalah memberikan advise kepada seluruh jajaran pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi daerahnya selain sektor migas dan minerba serta sawit. Bagaimana orang lain mau datang ke Kaltim bukan hanya sekedar mencari penghidupan sebagai buruh disektor tersebut, melainkan datang membawa modal untuk mengembangkan sektor-sektor lainnya seperti pariwisata, pertanian, kehutanan, industri logam dasar, industri kimia dasar dll. Dulu sewaktu saya masih sekolah dibangku Sekolah Dasar, Guru saya menerangkan bahwa Samarinda sangat terkenal dengan produksi sarungnya, bahkan sarung samarinda bisa masuk dalam botol. Luar biasa sekali karena saat itu saya belum bisa membayangkan seperti apa bentuk sarungnya karena sangat mahal kata guru saya. Mengapa hal semacam ini kurang mendapat perhatian pemerintah ? Kemudian produksi buah Naga di Kaltim sangat terkenal manis dibanding dari daerah lain. Kenapa pemerintah tidak mendorong atau mendatangkan investor untuk mengolah lebih lanjut buah naga menjadi sesuatu yang khas seperti sirup markisa dari Sulsel. Setiap orang datang kesana selalu ingin membeli sirup markisa karena rasanya yang sangat khas dan disukai oleh banyak orang. Di Kuala Lumpur Malaysia saya pernah masuk mesjid Negara yang dijadikan salah satu ikon wisata religi negeri Jiran. Begitu banyak wisatawan mancanegara khususnya yang non muslim sengaja datang kesana untuk melihat dari dekat kehidupan umat Islam Malaysia. Mengapa Islamic Center Samarinda yang jauh lebih megah, mewah dan lebih besar belum bisa dijadikan pusat wisata religi Kaltim seperti halnya mesjid Negara?. Lalu bagaimana dengan Pulau Kumala, Pulau Derawan dan pusat-pusat wisata Kaltim lainnya ? Sekali lagi ini adalah tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah yang kurang mau membangun infrastruktur di Kaltim. Mohon maaf ibu, masih banyak hal produktif yang dapat di explore lebih jauh dari bumi kaltim. Semoga masukan ini bermanfaat. Terimakasih. Wassalamu'alaikum Wr. Wb Mulyono Ari WIbowo Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo Gg. 5 No. 18, RT. 10. Samarinda 75123 Telp. 081254866637

Lihat semua aspirasi