Hetifah: Pendidikan Anak di Sabah Malaysia Memprihatinkan

Balikpapan – Anggota Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian Siswanda mengatakan sebanyak 48.000 anak Indonesia di negara bagian Sabah, Malaysia, tidak memperoleh pendidikan yang layak.

“Sungguh memprihatinkan. Dari jumlah itu, hanya 12.000 anak yang mendapat pendidikan formal. Yang 12.000 itu pun sebagian besar mendapatkan pendidikan dari `learning center`, semacam sanggar belajar yang juga serba terbatas, baik fasilitas pengajarannya maupun tenaga pendidik atau gurunya,” kata Hetifah, Minggu (6/11).

Menurut dia, “Learning Center” tersebut jumlahnya sebanyak 28 unit dan hanya berlangsung dua kali seminggu.

“Data ini saya dapatkan dari Konsulat Jenderal kita di Tawau,” sambung Hetifah yang memang baru pulang dari Tawau, negara bagian Sabah, Malaysia Timur.

Sebelumnya, Hetifah yang anggota Fraksi Partai Golkar memanfaatkan tiga hari masa reses untuk mengunjungi konstituennya di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Timur bagian utara.

Alasan ia mengunjungi Tawau terutama karena di wilayah itu banyak warga Indonesia bekerja di perkebunan sawit Malaysia. Para pekerja ini ada yang membawa istri dan anak-anaknya.

Keberadaan anak-anak yang memerlukan pendidikan formal itulah, yang menjadi bidang Komisi X DPR RI di mana Hetifah tergabung.

Dengan belajar di “learning center” yang sejatinya memang disediakan pemerintah Malaysia tersebut, mau tidak mau kurikulum pendidikan Malaysia juga dimasukkan. Bahasa pengantar pun Bahasa Melayu, sehingga membuat anak-anak tersebut lebih fasih berbahasa Melayu ketimbang bahasa Indonesia.

“Ketika saya berkunjung ke salah satu sekolah di sana, anak-anak itu baru merespons saya setelah apa yang saya katakan dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan gurunya ke Bahasa Melayu,” kata Hetifah.

Apalagi, cerita Hetifah, ketika pertama datang, ia disambut para siswa dengan menyanyikan lagu kebangsaan Malaysia “Negaraku”, kemudian lagu negara bagian Sabah, dan ketiga baru lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.

“Ya gak papalah, sekolah itu kan di tanah Malaysia. Masih untung mereka sudah kenal Indonesia Raya dan Sang Saka Merah Putih,” ujarnya.

Selain bersekolah di 28 “learning center” yang tersebar di perkebunan-perkebunan, sebagian anak Indonesia yang beruntung mendapat pendidikan di sekolah-sekolah formal Malaysia yang disebut sekolah kebangsaan.

Hetifah mencatat ada 451 murid di SD Holy Trinity, sebuah sekolah milik yayasan Katolik, 36 murid di SD Melawar, dan 70 murid di SD Merotai.

Karena ada murid asal Indonesia tersebut, kepada sekolah-sekolah tersebut, termasuk juga di “learning center” ada guru asal Indonesia yang diperbantukan mengajar di sana.

Pada tahun 2006-2009, dan kemudian 2009-2011, jumlah guru-guru yang sudah menjadi PNS yang diperbantukan untuk mengajar di sekolah-sekolah dan “learning center” tersebut sebanyak 109 orang. “Untuk tahun 2011-2014 belum ada,” lanjut Hetifah.

Ironisnya, kata Hetifah, pemerintah negara bagian Sabah cenderung mempersulit izin tinggal bagi guru-guru asal Indonesia. Guru asal Indonesia harus mendapat jaminan bahwa mereka memang bekerja sebagai guru, bukan yang lain-lain.

Oleh sebab itu, sebagai salah satu jalan keluar, pemerintah Indonesia bermitra dengan Humana, LSM setempat yang menjadi penjamin atas guru-guru asal Indonesia tersebut.

“Saya melihat bahwa pemerintah kita harus juga tegas kepada Malaysia. Kalau mau mempekerjakan TKI, harus juga menjamin hak-haknya, termasuk hak anak-anaknya untuk mendapat pendidikan yang layak,” tegas Hetifah.  (ANT-188/A041)

 

sumber: antaranews

 

Hetifah Mendengar

Sampaikan aspirasi Anda

  1. Assalamu'alaikum wr wb. Yang Terhormat Ibu Hetifah Sjaifudian. Saya Safril, dari Institusi yang bergerak dalam kegiatan Pengembangan dan Peningkatan Kompetensi SDM khususnya di bidang Teknologi informasi dan Komunikasi untuk SMK dan SMA . Sejak tahun 2012 kami telah melakukan sosialisasi tentang pentingnya memberikan keahlian digital kepada siswa SMK maupun SMA untuk meningkatkan daya saing siswa setelah lulus. Hal ini mengingat masih cukup banyak lulusan SMK yang belum memperoleh kesempatan kerja. Dan yang sudah bekerja tidak sedikit memperoleh pekerjaan yang tidak sesuai dengan ilmu atau keahlian yang diperoleh di SMK. Mohon maaf kami tidak bermaksud memandang rendah suatu pekerjaan, akan tetapi banyak lulusan SMK yang menjadi petugas cleaning atau cleaning service, office boy dan sejenisnya. Kami hanya ingin memaksimalkan peluang pekerjaan yang terbaik yang dapat diperoleh oleh lulusan SMK, sehingga selama 3 tahun belajar dan berlatih tidak berakhir pada pekerjaan yang pada prinsipnya tidak memerlukan jenjang pendidikan menengah kejuruan. Sementara dibentuknya Badan Nasional Sertifikasi Profesi kurang memberikan dampak yang diharapkan. Dan para pemilik Sertifikat dari BNSP setiap tahun harus memperpanjang legalitas Sertifikatnya dengan biaya cukup mahal. Selain itu kami menilai adanya pemaksaan bagi SMK untuk menyelenggarakan Sertifikasi Profesi di SMK-SMK dengan dibentuknya LSP-LSP melalui Peraturan Menteri Pendidikan, yang jelas mengikat SMK untuk mengalokasikan Dana BOS untuk kegiatan BNSP. BNSP mengeluarkan sertifikat profesi berstandar nasional sedangkan kami mengeluarkan sertifikat keahlian digital bersatndar Internasional dan ditandatangani langsung oleh Produsen yang mengeluarkan produk-produk teknologi digital, seperti Microsoft, Adobe dan Autodesk. Untuk itu kami mohon dengan sangat kepada Yth. Ibu Hetifah Sjaifudian, untuk dapat memberikan solusi bagi kami agar dapat memberikan bimbingan berbasis kinerja dengan standar internasional kepada siswa SMK dan pada akhirnya siswa memperoleh sertifikat keahlian digital berstandar Internasional yang sudah diakui oleh kurang lebih 140 negara. Kami sudah melakukan konsolidasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak Musyawarah Kerja Kepala Sekolah dengan respon cukup positif akan tetapi hanya sebatas itu. Alasan utama yang kami terima adalah masalah pendanaan. Kami pada prinsipnya bukan bertujuan "memanfaatkan" Dana Bos atau anggaran pemerintah meskipun seharusnya memang demikian, akan tetapi visi dan misi kami lebih kepada memberikan solusi kepada pihak sekolah terutama kepada siswa yang nantinya menjadi SDM yang mampu bersaing dan memperoleh peluang kerja lebih besar. Bahkan kami memberikan alternatif agar siswa dapat menabung melalui Bank sehingga mampu untuk memenuhi biaya Sertifikasi yang kami selenggarakan dengan nominal yang sangat terjangkau. Untuk itu kami mohon dan sangat berharap untuk dapat bertemu Ibu dan memperoleh arahan serta dukungan agar visi dan misi kami dapat terwujud. Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan, kami mengucapkan terimakasih. Jika berkenan dan kami sangat senang menerima kabar baik dari Ibu melalui 081373264177

  2. Ibu Hetifah yang terhormat, saya adalah warga Bontang Kalimantan Timur, sering menggunakan jalan poros Samarinda Bontang karena tuntutan pekerjaan namun alangkah sengsara nya saya dan saya yakin orang lain yang menggunakan jalan tersebut karena kondisi jalan yang banyak lubang dan tidak layak disebut dengan jalan negara yang terletak di propinsi yang kaya raya seperti Kalimantan Timur untuk itu ibu sebagai wakil kami di parlemen dan membidangi perhubungan mohon diusulkan kepada pemerintah untuk perbaikan jalan tersebut. apabila ibu minta saya bisa berikan datanya secara langsung melalui video yang bisa saya upload ke youtube kalo ibu minta atau sekali kali turunlah ibu kelapangan naik mobil dari samarinda ke bontang sekalian tembus ke sangatta, silakan ibu rasakan sensasinya dan bandingkan dengan infrastruktur di jawa

  3. Assalamu'alaikum wr wb. Hetifah Sjaifudian. Saya Safril, dari Institusi yang bergerak dalam kegiatan Pengembangan dan Peningkatan Kompetensi SDM khususnya Lulusan SMK dan SMA di bidang Teknologi informasi dan Komunikasi. Bisakah kami meminta audiensi dengan ibu, terkait program pemerintah untuk membangun SDM yang berkualitas, kompetitif dan mampu bersaing dengan negara lain dan memperoleh bonus demografi, Demikian bu, harapan kami ibu dapat berkenan meluangkan waktu untuk kami. Wassalamu'alaikum wr wb. -Safril-

Lihat semua aspirasi